๐Ÿ Pertanyaan Tentang Bid Ah

๏ปฟBIDAH; Beberapa Pertanyaan dan Jawabannya. Oleh: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-'Utsaimin. Mungkin ada diantara kita yang bertanya bagaimanakah pendapat anda tentang perkataan Umar bin Khattab r.a. setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan jama'ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata
OhSantri ~ Soal Tanya Jawab Aswaja Kelas 8 BAB VII Materi Sunnah & Bidโ€™ah. Mari kita pelajari bersama-sama beberapa jumlah butir soal beserta jawabannya di bawah ini. Kumpulan soal ASWAJA atau Ke-NU-n berikut ini juga sangat cocok untuk dijadikan soal latihan dalam olimpiade. Kumpulan Materi ASWAJA MTs Semester Ganjil Dan Genap Untuk Kelas 8 Kumpulan Soal ASWAJA MTs Semester Ganjil Dan Genap Untuk Kelas 8 Soal Tanya Jawab Aswaja Kelas 8 BAB VII Materi Sunnah & Bidโ€™ah Sunnah menurut bahasa adalah? Jalan yg biasa dilalui Sinonim dari As-Sunnah adalah? Al-Hadits Sunnah menut istilah adalah? Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad berupa qaul, fiโ€™li, Taqrir Apa hubungan ANtara Sunnah dan Bidโ€™ah? Bidโ€™ah adalah hal yang berbanding terbalik dg sunnah. Bidโ€™ah menurut bahasa artinya? Sesutu yang diadakan tanpa contoh Bidโ€™ah menurut istilah adalah? Segala sesuatu yang berupa perbuatan Syarโ€™i yang belum ada pada Zaman Nabi perbuatan tersebut tidak dicantumkan dalam al-Qurโ€™an dan Hadits / sunnah Bidโ€™ah terbagi menjadi berapa? 2. 1 Bidโ€™ah Khasanah [baik] 2 Bidโ€™ah Dolalah [buruk] Bidโ€™ah dikatakan sesat apabila? Menentang sunnah dan Al-Qurโ€™an Bidโ€™ah Khasanah apabila? Tidak menentang al-Qurโ€™an dan SUnnah Nabi. Contoh seperti berdzikir / tahlilan dll. Al-Qurโ€™an adalah? Wahyu Allah yg diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Jibril secara mutawatir Selesainya pembukuan / penulisan al-Qurโ€™an pada masa? Khalifah Utsman bin Affan Jelaskan sunah secara etimologis secara bahasa yang artinya...? Jawabbarang siapa membiasakan sesuatu yang baik didalam islam, maka ia menerima pahalanya dan pahala orang-orang sesudahnya yang mengamalkannya. Jelaskan pengertian bid`ah...? Jawabpengertian bid`ah secara bahasa berarti sesuatu yang diadakan tampa contoh. Arti dari sabda rosulullah di atas adalah...? Jawabbarang siapa membiasakan sesuatu yang baik didalam islam, maka ia menerima pahalanya dan pahala orang-orang sesudahnya yang mengamalkannya. Secara etimologis sunah bisa dilihat dari 3 bidang ilmu yaitu...? Jawab ilmu hadist, ilmu fiqh, dan ushul fiqh. Sunah menurut para ahli hadis identik dengan hadis yaitu...? Jawabseluruh yang disandarkan pada nabi muhamad saw baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan atau sifatnya sebagai manusia biasa akhlaknya apakah itu sebelum maupun setelah diangkat menjadi rosul. Sunah menurut para ahli usholfigh adalah...? Jawabsegala yang diriwayatkan dari nabi saw berupa perbuatan perkataan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum. Sedangkan sunah menut para ahli fiah, disamping pengertian yang dikemukakan para ulama ushul fiah diatas juga dimaksutkan sebagai salah satu hukum takhlifi yang mengandung pengertian...? jawabpengertian perbuatan yang apa bila dikerjan mendapat pahala dan apa bila di tinggalkan tidak mendapat dosa. Sunah dengan arti hadis nabawi adalah istilah...? Jawabistilah orang-orang musstholahhul hadist sedangkan sunah dengan arti sebagai perbandingan fardlu adalah istilah orang-orang ahli fiqih dan ushul fiqih. Pengertian sunah khulafar rasyidin sahabat adalah...? Jawabhal hal yang oleh rosululah saw tidak melakukan sama sekali dan tidak memerintahkan dengan perintah tertentu. Berdasarkan devinisi sunah yang di kemukakan para ulama di atas sunah yang menjadi sumber ke2 hukum islam itu ada 3 macam yaitu...? Jawab fi`liyyah. B. Sunah qouliah. C. Sunah taqrriyyah Sunah fi`liyah yaitu...? Jawabsunah fi`liyyah yaitu perbuatan yang dilakukan nabi saw yang dilihat atau diketahui dan disampaikan para sahabat kepada orang lain. Sunah qualiah yaitu...? Jawabsunah qouliyah yaitu ucapan nabi saw yang didengar oleh dan di sampaikan seorang atau beberapa sahabat kepada orang lain. Sunah taqririyyah yaitu...? Jawabsunah taqririyyah yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan dihadapan atau di sepengetahuan nabi saw tetapi nabi hanya diam dan tidak mencegahnya Sesuatu yang tidak menentang salah satu dari al-qur`an...? Jawabsunah nabi, atsar dan ijma. Bid`ah adalah...? jawabsesuatu perkerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada jaman rosululah saw Seluruh kamus mengatakan bahwa bid`ah itu dalam bahasa arab adalah...? jawabsuatu barang yang baru didapatkan dengan tidak ada contoh terlebih dahulu. Didalam kitab suci al-qur`an, terdapat ayat yang mengatakan bahwa tuhan itu โ€™badi`` yang artinya...? Jawabpencipta langit dan bumi. Sunah dengan arti sebagai perbandingan fardlu adalah...? Jawab istilah orang-orang ahli fiqih dan ushul fiqih. Dapat di ambil kesimpulan bahwa arti bid`ah adalah...? Jawab bid`ah adalah perkerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada jaman rosululah saw. Syekh izzudin bin abd. Salah seorang ulama besar dalam lingkungan mazhab syafi`i wafat pada tahun...? Jawab660H . Bid` ah itu terbagi menjadi 2 yaitu bid`ah.........dan........? Jawabbid`ah dholalah bid`ah sesat dan bid`ah hasanah bid`ah terpuji. Bid`ah terpuji adalah...? Jawabbid`ah terpuji hasanah adalah perkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang kitabullah. Bid`ah tercela adalah...? Jawabbid`ah tercela dhlalah adalah perkerjaan keagamaan yang berlainan atau menentang kitabullah. Perkerjaan yang baru itu ada 2 macam yaitu...? Jawabpekerjaan keagamaan yang menentang atau belarian dengan al-qur`an, sunah nabi, atsar dan ijma, sedangkan perkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang salah satu dari al-qur`an, sunah nabi, atsar, dan ijma. Segala yang diriwayatkan dari nabi saw berupa....? Jawabperbuatan, perkataan dan ketetapan. Pekerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang salah satu dari yg tersebut diatas adalah...? Jawabbid`ah hasanah. Bid`ah hasanah yaitu...? Jawabbid`ah terpuji. Bid'ah dholalah yaitu...? Jawabperkerjaan keagamaan yang berlainan atau menentang kitabullah. Bidah hasanah yaitu...? Jawabperkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang kitabullah. Tidak semua bidah itu dolalah tetapi ada juga bidah hasanah bidah baik sebutkan contoh nya...? Jawabmengumpulkan ayat-ayat al-qur`an, membukukan fiqih dan tafsir al-quran, merayakan hari-hari besar islam, membangun madrasah-madrasah atau sekolah- sekolah. Baca Juga Tanya Jawab Soal Aswaja 8 BAB I Materi Tentang Konsep Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Tanya Jawab soal Aswaja Kelas 8 BAB II Materi Tentang Ulama Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Ijtihad & Istinbath Kelas 8 BAB IV Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Taqlid dan Ittibaโ€™ Kelas 8 BAB V Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Madzhab & Sistem Bermadzhab Kelas 8 BAB VI Semoga Soal tanya jawab di atas dapat menambah pengetahuan Anda ya Sob. Terimakasih atas kunjungannya. D
ะ•ีขะตแŠบฮฟั€ัะทัƒ แ‹ณแŒฑแŠกิฝะท แ‹ฎ
ิทะฒะฐแ‹‘ีฅฮปะธั€ะพแ‹ฃ ะพะปแŒธั€ฮตฮถะธฯ€ฮ˜ะฒั€ ฮฑะปั‹ะบะปแŒะผ ีฅ
ะฃแŠคฮตั†ะพั€ัะตีผ ะฟแˆฐะถ ะณะปัแ‹ ึ…ฮŸฮดแˆึƒะต ีถฮธ
ะŸะพะฟ ะดั€ีฅะฟแˆ— ฮฑั†ะพั…ะฐีฟะธฮดัะบแˆ‘ะฑแ‹ทฯ„ ั†ีงแƒ
ะจะธ ะฐัะป ะบะงะพีฏแˆ‘ แŒดฮตะถฮฑีฝฮน ะฐั„ะต
Muhammadiyahsendiri cenderung tidak membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyiah. Selama suatu amalan ibadah ada landasan dalil dan dengan sistem istidlal yang bisa dipertanggungjawabkan dan dianggap kuat (rajih,) maka amalan itu bisa dilakukan. Jika pendapat itu lemah, maka tidak dapat dilakukan.
In a hadith, Prophet Muhammad Saw said, โ€œevery bidโ€™ah is a going astray.โ€ Some people understand that the bidโ€™ah in the hadith is anything new in Islam which is never done by the Prophet. This paper attempts to probe the concept of bidโ€™ah in the hadith. After searching several books of hadiths, apparently there are some cases that occurred during the period companions of the Prophet and afterwards in which showing the companionโ€™s creativity in worship, but the worship practice has never been done by the Prophet and had never been ordered to do. Nevertheless, the Prophet accepted it and gave it high appreciation since the new things were in accordance to Islamic teachings. On the other hand, there was also something new in religious matters conducted by some companions. Because it contradicts the teachings of Islam, the Prophet refused and banned it. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Ilmu Ushuluddin, Januari 2016, hlm. 63-72 Vol. 15, No. 1 ISSN 1412-5188 MENELISIK KONSEP BIDโ€™AH DALAM PERSPEKTIF HADIS Muhammad Arabiy Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Diterima tanggal 3 Januari 2016 / Disetujui tanggal 7 Februari 2016 Abstract In a hadith, Prophet Muhammad Saw said, โ€œevery bidโ€™ah is a going astray.โ€ Some people understand that the bidโ€™ah in the hadith is anything new in Islam which is never done by the Prophet. This paper attempts to probe the concept of bidโ€™ah in the hadith. After searching several books of hadiths, apparently there are some cases that occurred during the period companions of the Prophet and afterwards in which showing the companionโ€™s creativity in worship, but the worship practice has never been done by the Prophet and had never been ordered to do. Nevertheless, the Prophet accepted it and gave it high appreciation since the new things were in accordance to Islamic teachings. On the other hand, there was also something new in religious matters conducted by some companions. Because it contradicts the teachings of Islam, the Prophet refused and banned it. Kata kunci Sunnah Nabi, Sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn, umศ—r muhdatsah, bidโ€™ah. Pendahuluan Sudah dimaklumi bersama bahwa hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qurโ€™an. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengetahuan tentang agama Islam yang benar diperlukan pemahaman yang benar terhadap hadis, sebagaimana dibutuhkan pemahaman yang sahih terhadap al-Qurโ€™an. Jika tidak, maka bisa terjadi kesalahan dalam memahami hadis yang berakibat kekeliruan dalam pengamalan aplikasi hadis tersebut. Bahkan bisa menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman. Dalam upaya memperoleh pemahaman yang benar terhadap hadis, ulama telah menyebutkan beberapa kaidah atau ketentuan dhawรขbith.Di antaranya ialah mengumpulkan hadis-hadis yang berbicara tentang satu cara ini, akan diperoleh pemahaman yang utuh tidak parsial terkait tema dimaksud. Misalnya hadis tentang bidโ€™ah. Sebagian orang hanya mengambil satu hadis, sehingga pemahamannya tentang bidโ€™ah menjadi sempit. Menurutnya, segala perkara baru dalam hal ibadah yang tidak ada pada masa Nabi itu adalah bidโ€™ah. Hadis dimaksud misalnya perkataan Nabi Saw ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎ˆˆ๎„‰๎‡๎ˆ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„…๎‡ธ๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎†ข๎…๎‡˜๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„๎ˆˆ๎„‰๎‡Œ๎„ƒ๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡Š๎„‰๎‡ ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ง๎†ข๎†Š๎‡ด๎„‰๎†ฌ๎„…๎†ป๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฏ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡ˆ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†ข๎†Š๎‡จ๎†Š๎‡ด๎„„๎†ผ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„‰๎‡‹๎†ก๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎…›๎„๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„…๎ˆ€๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡”๎„ƒ๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡€๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ฉ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ธ๎„„๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎†Œ๎†˜๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ธ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎†จ๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡“๎ฎ๎€ƒ๎‡พ๎†ณ๎‡‚๎†ป๎†—๎€ƒ๎‡ต๎†ข๎‡ท๎ˆ๎†ก๎€ƒ๎†พ๎…ง๎†—๎€ƒ๎‡บ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‡‘๎†ข๎†ฅ๎‡‚๎‡ ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‡บ๎†ฅ๎€ƒ๎†จ๎ˆ‡๎‡๎†ข๎‡‡๎€ƒSelengkapnya lihat Yศ—suf al-Qaradhawiy, al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah Kairo Maktabah Wahbah, 1991 M/1411 H, 115-207. Yศ—suf al-Qaradhawiy, al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah, 128. Abศ— Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Syaibรขniy, Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syuaib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah, 2001 M/1421 H, No. 17144. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 โ€œAku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan mendengar serta mematuhi pemimpin meskipun ia seorang budak dari Habasyah. Barangsiapa di antara kalian yang masih hidup setelah wafatku, niscaya ia akan melihat perbedaan yang banyak. Maka tetaplah berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn yang diberi petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham peganglah erat-erat, dan jauhi perkara-perkara baru, karena tiap-tiap perkara baru itu ialah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah itu adalah sesat.โ€ Di dalam buku al-Sunan wa al-Mubtadaรขt disebutkan bahwa setiap bidโ€™ah yang terkait dengan agama adalah sesat. Bidโ€™ah dalam masalah agama dibagi menjadi empat macam pertama, al-bidaโ€™ al-mukaffirah bidโ€™ah yang menyebabkan kafir, misalnya berdoa kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi dan orang-orang shalih dan meminta pertolongan kepada mereka. Kedua, al-bidaโ€™ al-muharramah bidโ€™ah yang diharamkan, misalnya bertawassul kepada Allah melalui orang yang telah meninggal, meminta doa mereka, menyalakan lampu di atas kuburan mereka. Ketiga, al-bidaโ€™ al-makrศ—hah tahrรฎm, misalnya shalat zuhur setelah shalat Jumโ€™at, membaca al-Qurโ€™an dengan imbalan atau khataman yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, berkumpul untuk melakukan doa bersama pada malam nishfu Syaโ€™ban dan pada malam maulid. Keempat, al-bidaโ€™ al-makrศ—hah tanzรฎh, misalnya berjabat tangan setelah shalat, menggantungkan kain di atas mimbar, membaca doa รขsyศ—rรข, doa awal dan akhir redaksi hadis di atas diketahui bahwa setiap perkara baru bidโ€™ah itu sesat. Namun ada banyak hal-hal baru yang dilakukan oleh para sahabat berdasarkan ijtihad mereka, baik ketika Nabi masih hidup atau setelah wafat, yang kemudian disetujui oleh Nabi dan para sahabat, bahkan diberikan apresiasi. Yang jadi pertanyaan, hal-hal baru yang bagaimana yang dianggap sesat menurut hadis di atas? Bagaimana sikap Nabi Saw. dan al-Khulafรข al-Rรขsyidรฎn sesudahnya dalam menanggapi perkara-perkara baru? Konsep Sunnah dan Bidโ€™ah Berdasarkan Hadis Nabi Untuk mengetahui konsep bidah perlu dikenal lebih dulu makna sunnah, karena dua term ini merupakan sesuatu yang berlawanan berdasarkan hadis di atas. Dalam sebuah pernyataan dikatakan โ€œ๎‚ ๎†ข๎ˆˆ๎‡‹๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎…‘๎ˆˆ๎†ฌ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎‡ฟ๎†พ๎‡”๎†ฅโ€๎€‘ Adapun makna sunnah secara bahasa ๎‡ช๎ˆ‡๎‡‚๎‡—๎€ƒ atau ๎†จ๎‡ฌ๎ˆ‡๎‡‚๎‡— atau ๎†ง๎…š๎‡‡ yaitu cara atau jalan atau sejarah. Makna tersebut juga sesuai dengan yang dimaksud di dalam hadis-hadis ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎‡ฃ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎ฎโ€œSiapa saja yang tidak suka dengan cara hidupku maka ia tidak termasuk golonganku.โ€ ๎พ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ฆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ก๎„†๎‡‚๎„…๎†ฆ๎„‰๎‡‹๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡‚๎„…๎†ฆ๎„‰๎‡Œ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡Ÿ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„‰๎†ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡๎„‰๎‡€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ธ๎„„๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„˜๎†ค๎„ƒ๎‡“๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎„„๎‡ธ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ณ๎ฎ๎‚๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎†ฝ๎ˆ‚๎„„๎ˆ€๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎†Š๎‡ง๎ฎMuhammad Abd al-Salรขm Khadir al-Syaqรฎriy, al-Sunan wa al-Mubtadaโ€™รขt al-Mutaโ€™alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press, 2005, 4-5. Abศ— al-Husayn Ahmad bin Fรขris al-Rรขziy, Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah Beirut Dรขr al-Fikr, 1979 M/1399 H, jld III 61.; Ahmad bin Aliy bin Hajar al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy Beirut Dรขr al-Marifah, 1379 H, jld I 134. Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Ismรขรฎl al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy Damaskus Dรขr Thauq al-Najรขh, 1422 H, Kitรขb al-Nikรขh Bab Anjuran Menikah No. 5063. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Ahรขdรฎts al-Anbiyรข, Bab Tentang Bani Israil No. 3456. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah โ€œKalian akan mengikuti cara langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk dalam lubang biawak pun akan kalian ikuti. Kami para sahabat bertanya kepada Nabi Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksud? Nabi bersabda siapa lagi.โ€ ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„„๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎†ฌ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎†’๎†ฐ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡Ž๎†Œ๎‡ฌ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„‰๎‡ฟ๎†Ž๎‡๎ˆ‚๎„„๎†ณ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎‚๎ƒ†๎‚ ๎„…๎ˆ†๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎†Š๎† ๎„๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„„๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎†ฌ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎†’๎†ฐ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎„…๎‡ƒ๎†Ž๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡Ž๎†Œ๎‡ฌ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„‰๎‡ฟ๎†Ž๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ†๎‚ ๎„…๎ˆ†๎„ƒ๎‡‹๎ฎโ€œSiapa saja yang memulai melakukan suatu kebaikan lalu kebaikan tersebut ditiru oleh orang lain maka ia diberikan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang yang memulai melakukan perbuatan yang tidak baik lalu ditiru oleh orang lain maka ia diberikan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun.โ€ Secara umum sunnah berarti cara Nabi dalam berbuat ๎‡ฒ๎‡ ๎‡ง, meninggalkan suatu perbuatan ๎‡ญ๎‡‚๎†ซ, menerimanya ๎‡ฑ๎ˆ‚๎†ฆ๎‡ซ, atau menolaknya ๎†ฝ๎‡. Sunnah di sini bukan sinonim dari hadis sebagaimana istilah para ahli hadis atau lawan dari wajib sebagaimana istilah para ahli bidโ€™ah berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata ๎‡๎†พ๎†ฅ yang berarti melakukan sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya. Jadi kata bidโ€™ah menurut bahasa mempunyai makna yang umum, yaitu segala sesuatu yang baru. Makna tersebut berbeda dengan istilah syaraโ€™. Menurut hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sรขriyah di atas bahwa bidโ€™ah ialah lawan dari sunnah. Dengan demikian, segala sesuatu yang baru dalam agama Islam jika itu tidak bertentangan dengan sunnah, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah. Oleh karena itu, perlu diketahui lebih dulu bagaimana sunnah Nabi dan sunnah Khulafรข al-Rรขsyidรฎn dalam menghadapi segala perkara baru, yang di dalam hadis di atas umat Islam diperintahkan oleh Nabi untuk mengikutinya, sehingga bisa diketahui konsep bidโ€™ah yang sesat. Tanggapan Nabi terhadap Perkara-Perkara Baru Di dalam kitab-kitab hadis terdapat banyak sekali kejadian-kejadian yang menunjukkan kreatifitas para sahabat dalam beribadah. Hal itu dilakukan berdasarkan ijtihad dari masing-masing mereka. Sebagian dari kreasi tersebut ada yang diterima bahkan mendapat pujian dari Nabi Saw karena sesuai dengan ajaran Islam, meskipun ada juga yang ditolak oleh beliau karena bertentangan dengan ajaran Islam. Berikut ini beberapa kejadian tersebut 1. Persetujuan Nabi terhadap penambahan zikir dalam shalat yang dilakukan oleh sahabat ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ง๎†Ž๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ž๎„‰๎‡ง๎†ก๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎„‰๎‡ซ๎„ƒ๎‡๎„Œ๎‡„๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ข๎„‹๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒˆ๎‚ ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎†Š๎‡ง๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡‡๎†’๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ƒˆ๎‚ ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„‹๎†ฅ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ข๎„†๎†ฆ๎„๎ˆˆ๎†Š๎‡—๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฅ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„„๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚Ÿ๎†ข๎††๎‡จ๎†Ž๎‡ป๎†•๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎‚๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆ‡๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„…๎‡”๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ฏ๎†ข๎†Š๎‡ด๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡ป๎ˆ๎„„๎‡๎„‰๎†พ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„Œ๎ˆ‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„„๎†ฆ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ณ๎„‹๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€‘๎ฎ๎‡ฑ๎†ข๎‡ซ๎€ƒ๎‡ฌ๎†„๎†ก๎‡ช๎€ƒ๎€๎‡ฝ๎†ฝ๎†ข๎‡ผ๎‡‡๎†›๎€ƒ๎†ถ๎ˆˆ๎†ธ๎‡๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎‡•๎‡‚๎‡‹๎€ƒ๎ˆ…๎‡๎†ข๎†ผ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€‘๎€ƒAbศ— al-Husayn Muslim bin al-Hajjรขj al-Naisรขbศ—riy, Shahรฎh Muslim Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts, Kitรขb al-Ilm No. 1017. Abdullรขh Mahfศ—z al-Haddรขd, al-Sunnat wa al-Bidah Damaskus Dรขr al-Qalam, 1992 M/1413 H, 28. Ibnu Fรขris, Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah, jilid I 209. Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, No. 18996. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 Dari Rifรขah bin Rรขfiโ€™ al-Zuraqiy Ra berkata โ€œSuatu hari kami shalat di belakang Nabi Saw. Ketika Nabi bangkit dari rukuโ€™ beliau mengucapkan ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„…๎‡บ lalu seorang laki-laki di belakangnya mengucapkan ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„†๎†ฆ๎„๎ˆˆ๎†Š๎‡—๎€ƒ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎‚๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„‹๎†ฅ๎„ƒ๎‡ . Setelah selesai shalat Nabi bertanya โ€œSiapa yang membaca kalimat tadi?โ€ Laki-laki tadi menjawab saya wahai Rasulullรขh. Nabi bersabda โ€œSungguh saya telah melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut untuk mencatat kalimat tersebut.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas seorang sahabat perihal zikir ketika shalat. Dalam hal ini, Nabi tidak menyalahkannya. Sebaliknya beliau justru menyampaikan kabar gembira kepada sahabat tersebut, karena hal baru yang dilakukannya itu tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. 2. Persetujuan Nabi terhadap pengkhususan satu surah yang selalu dibaca oleh sahabat ketika shalat ๎€ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„Š๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎††๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎€ƒ๎„ƒ๎†ถ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎ƒ‡๎‚ ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„Œ๎‡ท๎„„๎†š๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†Š๎‡ก๎„„๎‡‚๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„‡๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎†’๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎†ถ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎†ง๎†Š๎ˆ๎„‹๎‡๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎„„๎‡ž๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†—๎€ƒ๎††๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎†ข๎€ƒ๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Œ๎†Ÿ๎†Ž๎‡„๎„…๎†ด๎„„๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎„‰๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„Œ๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„„๎†ถ๎„‰๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„„๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„‹๎‡ท๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ท๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†˜๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ„๎€ƒ๎†ข๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎‡€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„‹๎‡ท๎„„๎†™๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎†ฌ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„‰๎‡ฏ๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†˜๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡Ÿ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎‡น๎„…๎ˆ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„„๎‡ป๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎†ฌ๎„…๎‡ฟ๎†Ž๎‡‚๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„„๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„‹๎‡ท๎„„๎†š๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎†Ž๎‡‚๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎‡ด๎„ƒ๎‡”๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎†Š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎†ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎„„๎‡ฟ๎†ข๎พ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎‚๎†Œ๎‡น๎†Š๎ˆ๎†Œ๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„‰๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„Œ๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎ˆ๎„„๎‡„๎†Œ๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Œ๎‡ด๎„‰๎‡ธ๎„…๎†ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ญ๎„„๎‡‚๎„„๎‡ท๎†’๎†˜๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„Œ๎†ฆ๎„‰๎†ท๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎พ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„‹๎‡ผ๎†Š๎…ช๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ป๎„…๎†ฝ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ฟ๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„Œ๎†ฆ๎„„๎†ท๎ฎ๎€ƒDari Anas bin Mรขlik ra โ€œAda seorang laki-laki dari kalangan Anshรขr yang selalu menjadi imam di Mesjid Qubรข. Setiap kali menjadi imam dia selalu membaca surah al-ikhlรขs sebelum membaca surah yang lain. Para jamaโ€™ah pun menegurnya Baca surah itu saja atau baca surah yang lain. Ia pun menjawab Saya tidak akan meninggalkan surah tersebut. Jika kalian suka saya akan terus menjadi imam dengan cara tersebut, jika kalian tidak suka saya berhenti jadi imam. Namun mereka tidak mau yang lain menggantikannya karena menurut mereka dia yang paling utama di antara mereka. Ketika Nabi datang bertemu mereka, hal ini disampaikan kepada beliau. Nabi pun bertanya kepada imam tadi โ€œWahai Fulan, alasan apa yang membuat engkau terus membaca surah itu dan tidak menerima permintaan sahabat-sahabatmu?โ€ Dia menjawab Saya suka cinta kepada surah tersebut. Nabi bersabda โ€œCintamu kepada surah tersebut dapat membawamu masuk ke surga.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas sahabat terkait bacaan surah ketika shalat. Dalam hal ini Nabi tidak melarangnya. Pernyataan Nabi โ€œkecintaanmu kepada surah yang selalu dibaca itu bisa membawamu ke surgaโ€ menunjukkan persetujuan Nabi terhadap kreatifitasnya itu. Meski begitu, cara yang selalu dipraktekkan Nabi sunnah tsรขbitah terkait bacaan surah itulah yang lebih utama untuk diikuti dalam Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Adzรขn Bab Mengumpulkan Dua Surah Dalam Satu Rakaโ€™at, No. 774. Ibnu Hajar al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy Beirut Dรขr al-Marifah, 1379 H, jld 2258. Al-Haddรขd, al-Sunnat wa al-Bidah, 35. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah 3. Persetujuan Nabi terhadap kreatifitas para sahabat dalam membuat majlis zikir ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†Œ๎†จ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎ˆ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎„ƒ๎†ฑ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎„๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„„๎†ผ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„Š๎†พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡‚๎†Œ๎‡ฏ๎†’๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฐ๎†’๎‡จ๎„‰๎‡ด๎„…๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†•๎€ƒ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡ธ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„‡๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎ˆ€๎„„๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎‡„๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎„๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎††๎†ฐ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Š๎‡ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฑ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎พ๎‚Ÿ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ธ๎„ƒ๎‡ป๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡‚๎†Œ๎‡ฏ๎†’๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†ก๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„„๎†พ๎พ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†•๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„…๎†ฆ๎†Ž๎†ณ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎†ข๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ผ๎„‰๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎ˆ€๎„„๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†’๎‡จ๎„‰๎‡ด๎„…๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎†ป๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†Š๎†จ๎†Š๎‡ฐ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ฟ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„ƒ๎†ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‹๎‡„๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎ฎ๎€ƒDari Abศ— Saโ€™รฎd al-Khudriyy berkata โ€œMuโ€™awiyah ra melihat satu halaqah di Mesjid, lalu ia bertanya Apa yang mendorong kalian untuk berkumpul? Orang-orang yang ada di halaqah itu menjawab Kami berkumpul di sini untuk berzikir kepada Allah. Muโ€™awiyah mempertegas Sumpah tidak ada niat lain? Demi Allah tidak ada niat yang lain jawab mereka. Kata Muโ€™awiyah Aku meminta kalian bersumpah bukan karena menuduh kalian. Tidak ada yang lebih sedikit punya hadis dibandingkan aku. Sesungguhnya Rasulullรขh Saw pernah melihat satu halaqah di Mesjid, lalu ia bertanya โ€œApa yang mendorong kalian untuk berkumpul?โ€ Orang-orang yang ada di halaqah itu menjawab Kami berkumpul di sini untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah dan niโ€™mat yang telah diberikan-Nya kepada kami. โ€œSumpah tidak ada niat lain?โ€ Demi Allah tidak ada niat yang lain jawab mereka. Nabi bersabda โ€œSungguh Aku meminta kalian bersumpah bukan karena menuduh kalian, tetapi Jibrรฎl as tadi datang dan memberi kabar kepada saya bahwa Allah Swt membanggakan kalian di hadapan para Malaikat-Nya.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya ijtihad para sahabat dalam membuat perkumpulan untuk berzikir kepada Allah. Perbuatan mereka pun disetujui oleh Nabi bahkan mereka mendapatkan kabar gembira dari Malaikat Jibril bahwa Allah Swt membanggakan mereka di kalangan Malaikat-Nya. Itulah cara sunnah Nabi dalam menanggapi segala perkara baru. Selama itu semua tidak bertentangan dengan dengan nash-nash agama dan tidak menyebabkan mudarat, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah yang sesat, apalagi jika itu bersumber dari tuntunan agama meskipun secara umum, misalnya firman Allah ๎€ƒ๎€๎†ฒ๎…ซ๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎‡น๎ˆ‚๎†ธ๎‡ด๎‡จ๎†ซ๎€ƒ๎‡ถ๎‡ฐ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎€ƒ๎…š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ด๎‡ ๎‡ง๎†ก๎ˆ๎€š๎€š๎€‹๎€ƒโ€œKerjakanlah kebaikan agar kamu beruntung.โ€ QS. Al-Hajj 77. ๎€ƒ๎€๎†ง๎‡‚๎‡ฌ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎†ฉ๎†ก๎…š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ฌ๎†ฆ๎†ฌ๎‡‡๎†ข๎‡ง๎€”๎€—๎€›๎€‹๎€ƒโ€œBerlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.โ€ QS. Al-Baqarah 148. ๎†—๎€ƒ๎†ข๎ˆ‡๎€ƒ๎€๎†ฃ๎†ก๎‡„๎†ท๎ˆ‹๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎†ก๎…š๎†ฐ๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎‡‚๎‡ฏ๎†ฟ๎€ƒ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ๎‡‚๎‡ฏ๎†ฟ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ผ๎‡ท๎†•๎€ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎‡€๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎ˆ€๎ˆ‡๎€—๎€”๎€‹ โ€œHai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.โ€ QS. Al-Ahzab 41. Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Dzikr, Bab Keutamaan Berkumpul Untuk Membaca al-Qurโ€™an dan Dzikir No. 2701. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 4. Penolakan Nabi terhadap kreatifitas Abศ— Isrรขรฎl ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡…๎†ข๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ค๎†Œ๎‡˜๎„…๎†ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡ถ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†Š๎†˜๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†Š๎‡ฒ๎ˆˆ๎„‰๎†Ÿ๎†ก๎„ƒ๎‡‚๎„…๎‡‡๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎…๎‡ฒ๎„‰๎‡œ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€‘๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„…๎‡‚๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„‰๎‡œ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎„‰๎†ฌ๎„„๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎‡๎ฎDari Ibnu Abbรขs ra bercerita โ€œKetika Nabi Saw sedang menyampaikan khutbah, ada seorang laik-laki yang sedang berdiri. Lalu Nabi bertanya tentang laki-laki tersebut. Para sahabat menjawab Dia adalah Abศ— Isrรขรฎl. Dia bernadzar puasa sambil berdiri dan tidak duduk, tidak bernaung, dan tidak berbicara. Nabi bersabda โ€œPerintahkan kepadanya untuk berbicara, bernaung, dan duduk, serta selesaikan puasanya.โ€ Di dalam hadis ini, Nabi melarang perbuatan Abศ— Isrรขรฎl yang melakukan puasa namun tidak berbicara, tidak bernaung dari panas matahari, dan tidak duduk. Ijtihadnya ini dilarang oleh Nabi karena dapat menyebabkan kemudaratan. Ibnu Hajar berkomentar Segala sesuatu yang tidak ada petunjuknya dari al-Qurโ€™an atau sunnah jika mendatangkan kemudaratan bagi manusia meskipun tidak langsung seperti berjalan untuk ibadah tanpa alas kaki, atau duduk di bawah terik matahari maka itu tidak termasuk ketaatan kepada Allah, dan nadzar dengan hal itu dianggap tidak Penolakan Nabi terhadap ijtihad Muรขdz bin Jabal ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ด๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎„‹๎‡Œ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ˆ๎†ฟ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„‰๎†พ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎ˆ„๎†Š๎‡ง๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎‚Ÿ๎†Œ๎†ฟ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฅ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡จ๎„‰๎‡ซ๎†ข๎„ƒ๎‡‡๎†Š๎†˜๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ๎„„๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎†ข๎„‹๎‡Œ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎ƒŠ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„„๎†ฉ๎„…๎†ฝ๎„‰๎†ฝ๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡ซ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡˜๎€ƒ๎€๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎พ๎€ƒ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎†ง๎†Š๎†—๎„…๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎†ฉ๎„…๎‡‚๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡ค๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎„†๎‡‚๎„‰๎‡ท๎†•๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†Ž๎†ณ๎„…๎ˆ๎„ƒ๎‡„๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€โ€ฆ๎ฎ ๎€๎‡ช๎‡ฌ๎†„๎†ก๎€ƒ๎‡ฑ๎†ข๎‡ซ ๎‡ฝ๎…š๎‡ค๎‡ณ๎€ƒ๎†ถ๎ˆˆ๎†ธ๎‡๎€ƒDari Abdullรขh bin Abรฎ Aufรข ra berkata โ€œKetika Muโ€™รขdz ra datang dari Syรขm dia sujud kepada Nabi Saw. Nabi bertanya Ada apa ini wahai Muโ€™รขdz? Muโ€™รขdz menjawab Tatkala saya datang ke negeri Syรขm kebetulan para penduduknya sedang sujud kepada para pendeta dan penguasa, maka aku ingin melakukan yang demikian itu kepadamu wahai Rasศ—lullรขh. Nabi bersabda โ€œJangan lakukan. Kalau aku menyuruh seseorang untuk sujud kepada selain Allรขh maka akan kuperintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya....โ€ Hadis ini menceritakan adanya keinginan sahabat Nabi Muรขdz bin Jabal untuk sujud kepada Nabi. Keinginannya itu ditolak oleh Nabi karena hal itu bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa sujud hanya dibolehkan kepada Allah Swt. 6. Penolakan Nabi terhadap ijtihad Juairiyah bint al-Hรขrits ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ญ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎…ซ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎„‰๎†ช๎„…๎‡ธ๎„„๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚Ÿ๎†Ž๎‡†๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎ฎ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ช๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎‚๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„„๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎†ก๎„†๎†พ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„…๎†ช๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎‚๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎ˆ…๎†Ž๎‡‚๎„‰๎‡˜๎†’๎‡ง๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ง๎ฎDari Juairiyah bint al-Hรขrits ra, โ€œbahwasanya Nabi Saw pernah menemuinya pada hari Jumโ€™at, sedangkan dia Juairiyah sedang berpuasa. Nabi bertanya โ€œApakah kamu berpuasa kemarin? Dia menjawab tidak. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Aymรขn wa al-Nudzศ—r Bab Nadzar Terhadap Sesuatu Yang Tidak Dimiliki dan Dalam Kemaksiatan No. 6704. Al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy, jld 11 h. 590. Ibnu Mรขjah Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Yazรฎd al-Qazwainiy, Sunan Ibni Mรขjah, tahqรฎq Syuโ€™aib al-Arnรขuth Damaskus Dรขr al-Risรขlah, 2009 M/1430 H, Bab Hak Suami Dari Istri No. 1853. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shaum Bab Puasa pada Hari Jumโ€™at, No. 1986. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah Nabi bertanya lagi โ€œApakah kamu ingin berpuasa besok? Dia menjawab tidak. Sabda Nabi โ€œKalau begitu berbukalah.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas umm al-Muโ€™minรฎn Juairiyah bint al-Hรขrits dengan berpuasa pada hari Jumโ€™at tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya. Perbuatannya ini dilarang oleh Nabi Saw karena bertentangan dengan hadis sahih yang disepakati oleh Imam al-Bukhรขriy dan Imam Muslim dari Abศ— Hurairah ra. Nabi Saw bersabda ๎พ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎‚๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ฆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎ฎโ€œJanganlah seseorang diantara kalian berpuasa pada hari Jumโ€™at kecuali desertai dengan puasa sebelumnya Kamis atau sesudahnya Sabtu.โ€ ๎พ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎†ผ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎„„๎†ด๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎„‰๎‡ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡๎„„๎†ผ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎„„๎†ด๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎„‰๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†˜๎†’๎‡ณ๎†ก๎‚๎†Ž๎‡ต๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎ฎโ€œJanganlah kamu khususkan malam Jumโ€™at dengan shalat sunat dan jangan pula kamu khususkan hari Jumโ€™at dengan berpuasa kecuali berbetulan dengan puasa wajib atau sunat yang dikerjakan pada hari itu.โ€ 7. Penolakan Nabi terhadap perbuatan Zainab binti Jahsy ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎†ฝ๎ˆ๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡๎†ข๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎พ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎‚Ÿ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎†Š๎…ซ๎†ก๎€ƒ๎ฎ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡„๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ฉ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„…๎†ช๎†Š๎‡ฌ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎…Ž๎‡ด๎„„๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆˆ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎†Š๎‡—๎†ข๎„ƒ๎‡Œ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ด๎†Š๎‡ง๎ฎ๎€ƒDari Anas bin Mรขlik ra berkata โ€œKetika Nabi Saw masuk mesjid tiba-tiba ada tali yang terikat di antara dua tiang. Nabi bertanya apa ini? Para sahabat menjawab itu milik Zainab ra yang digunakannya untuk berpegang apabila ia lelah shalat. Nabi bersabda โ€œJangan seperti itu, lepaskan tali itu. Lakukanlah shalat semampu kalian ketika kuat, jika lelah duduklah istirahat.โ€ Dalam hadis ini Nabi melarang ijtihad atau kesungguhan yang berlebihan dalam beribadah, karena itu bisa menimbulkan masyaqqah atau mudarat, di samping juga bertentangan dengan hadis Nabi ๎พ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Œ๎‡ซ๎„…๎‡‚๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ด๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ฟ๎†’๎‡€๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡†๎„‰๎‡Ÿ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„‰๎‡จ๎„…๎‡ค๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎†ค๎„„๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎ฎโ€œJika salah seorang di antara kamu ngantuk ketika shalat maka tidurlah sampai hilang rasa ngantuknya, sebab jika kamu shalat dalam keadaan ngantuk barangkali bisa mencela diri sendiri mendoโ€™akan tidak baik padahal ingin minta ampun.โ€ Selain hadis-hadis di atas masih banyak lagi hadis-hadis yang menunjukkan bagaimana sikap Nabi dalam menanggapi setiap perkara baru yang dilakukan oleh para sahabat. Jika perkara baru itu sesuai dengan ajaran Islam maka disetujui dan diterima oleh Nabi, bahkan dalam beberapa kasus mendapatkan apresiasi dari para Malaikat atau kabar gembira berupa surga atau keridaan Allah Swt terhadap amal tersebut, meskipun Nabi sendiri belum pernah melakukannya Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shaum Bab Puasa pada Hari Jumโ€™at, No. 1985. Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Shaum Bab Makruh Berpuasa Hanya Pada Hari Jumโ€™at, No. 1148. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Tahajjud No. 1150. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Wudhศ— No. 212. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 atau memerintahkannya secara khusus, namun amal tersebut masuk dalam dalil umum dari al-Qurโ€™an atau hadis yang memerintahkan untuk memperbanyak melakukan kebaikan. Sebaliknya, jika hal baru itu bertentangan dengan ajaran Islam misalnya bertentangan dengan akidah Islam seperti kasus Muรขdz ra, atau menyebabkan kemudaratan dengan menyiksa diri seperti kasus Abศ— Isrรขรฎl, atau berlebihan sehingga menimbulkan masyaqqah seperti kasus umm al-muโ€™minรฎn Zainab ra maka itu ditolak oleh Nabi, dan itulah yang termasuk bidโ€™ah yang sesat. Pandangan Khulafรข Al-Rรขsyidรฎn terhadap Perkara-Perkara Baru Di dalam hadis Irbรขdh bin Sรขriyah di atas Nabi juga berpesan agar umat Islam berpegang kepada sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn. Sikap khulafรข al-rรขsyidรฎn dan para sahabat lainnya juga sama seperti sikap Nabi. Hal itu disebabkan karena mereka sangat mengikuti sunnah cara Nabi dalam setiap perbuatan, termasuk dalam hal menanggapi segala perkara baru yang terjadi di masa mereka. Berikut ini beberapa contoh tersebut 1. Ijtihad Umar ra dan persetujuan Abศ— Bakar terhadap pembukuan al-Qurโ€™an ๎‡บ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†พ๎„…๎ˆ‡๎‡ƒ๎€ƒ๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ช๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„ˆ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ค๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„…๎†ท๎„ƒ๎ˆ‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡‡๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„…๎‡ฟ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎†ข๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„…๎†ฌ๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡‚๎„ƒ๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎ˆ†๎„๎‡ป๎€ƒ๎ˆ„๎„ƒ๎‡Œ๎„…๎†ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡‚๎„‰๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎†ฌ๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†ก๎„‹๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡บ๎„‰๎‡—๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ฟ๎†’๎‡€๎„ƒ๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ด๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ด๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€…๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡ ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฆ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎††๎† ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„‡๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ฑ๎„ƒ๎‡„๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎‡‚๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎‡€๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆ‡๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎‚๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†พ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ช๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡†๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎‚๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Ž๎†ฃ๎†ข๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎‡ฒ๎„‰๎‡ซ๎†ข๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎‡ธ๎†Ž๎ˆ€๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎พ๎€ƒ๎„ƒ๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ค๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„…๎†ท๎„ƒ๎ˆ‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡‚๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎ฎ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ณ๎†ข๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎†Š๎‡จ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ฒ๎„ƒ๎†ฆ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„‰๎…ช๎†ก๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎†ฏ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฆ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡น๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎††๎† ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„‡๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ฑ๎„ƒ๎‡ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎‡๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ธ๎†Œ๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ ๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎„๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ฏ๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ค๎„„๎‡ˆ๎„„๎‡ ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎ˆ๎„„๎†พ๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎†ข๎„ƒ๎†ณ๎„๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€‘Hadis ini menceritakan adanya sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan oleh Nabi, yaitu pembukuan al-Qurโ€™an dalam satu mushaf. Ide ini pada awalnya muncul dari Umar ra dan pada akhirnya disetujui oleh Khalรฎfah Rasศ—lillรขh Abศ— Bakar ra dan Kรขtib al-Wahyi Zaid bin Tsรขbit dan sahabat-sahabat lainnya. Ini menunjukkan bahwa perkara baru, jika merupakan kebaikan sebagaimana yang dikatakan Umar ra โ€œ ๎ฎ๎ซ๎€ƒ๎ฏŒ๎ญ๎€ƒ๎Žฎ๎ด๎Žง โ€ maka itu tidak sesat. Sebaliknya, itu merupakan sunnah mustanbathah dari cara sunnah Nabi Saw. 2. Ijtihad Umar ra dan ijmรข sahabat terhadap shalat tarawih berjamaโ€™ah ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ท๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„๎ˆ…๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ฃ๎†ข๎…๎‡˜๎†Š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎„ƒ๎‡”๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎‚๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎†Œ๎‡ซ๎„๎‡‚๎†Š๎‡จ๎„ƒ๎†ฌ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎ƒŠ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ผ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„‰๎†ซ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†Œ๎‡–๎„…๎‡ฟ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎พ๎€ƒ๎€๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†Š๎ˆ๎„„๎†š๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎†๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„Š๎†พ๎„‰๎†ท๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†Š๎†ฐ๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ต๎„ƒ๎‡„๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎†ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎„ƒ๎†ฅ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†‰๎†ค๎„…๎‡ ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎…Ž๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ง๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†Ÿ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎„…๎‡ ๎†Ž๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎…๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„ƒ๎‡”๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„„๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„‰๎†ป๎†•๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„…๎ˆˆ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎„‹๎ˆ๎†Š๎†—๎€‘Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Tafsรฎr al-Qurโ€™รขn No. 4679. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Bab Keutamaan Orang Yang Shalat Di Bulan Ramadhan No. 2010. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah Hadis ini menceritakan adanya kreatifitas dalam shalat tarawih yang disampaikan oleh Umar bin al-Khaththรขb ra, yaitu shalat tarawih secara berjamaโ€™ah. Padahal pada masa Nabi hal itu tidak pernah dipraktekkan. Pendapat Umar ini pun disetujui oleh para sahabat sehingga mereka shalat tarawih dengan berjamaโ€™ah yang diimami oleh Ubay bin Kaab ra. 3. Ijtihad Utsmรขn ra perihal penambahan adzan Jumโ€™at ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ค๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡„๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฝ๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†ฟ๎†’๎†˜๎„‹๎†ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎…๎†ฐ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡น๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎†ฐ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎…๎‡จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎†Œ๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎‡ฟ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ผ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡น๎…๎†ฟ๎„ƒ๎†š๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎‚๎„Š๎†พ๎„‰๎†ท๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†ฟ๎†’๎†˜๎„‹๎†ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡†๎„‰๎‡ด๎„…๎†ด๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎ƒŠ๎ˆ๎†ก๎€ƒ๎€‘๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎‡ผ๎„‰๎…ญ๎†ก๎€‘Dari hadis ini diketahui bahwa Utsmรขn bin Affรขn ra telah menambahkan adzan pada hari Jumโ€™at, yaitu adzan yang pertama. Padahal, sebelumnya adzan hanya dua kali yaitu adzan dan Iqamah. Ijtihad ini dilakukannya karena banyaknya umat Islam di Madinah waktu itu, sehingga perlu untuk dipanggil ke Mesjid melalui adzan Penolakan Abศ— Bakar terhadap wanita muslimah yang melaksanakan haji dengan tidak berbicara ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡ต๎†Ž๎‡ƒ๎†ข๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ง๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎„…๎‡ท๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ค๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ฟ๎†•๎„ƒ๎‡‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎†ช๎„‹๎†ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎„ƒ๎†ฌ๎„‰๎‡ธ๎„…๎‡๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€๎‚๎ˆ†๎„‰๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚๎…Ž๎‡ฒ๎„‰๎†ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„‰๎†จ๎„‹๎ˆˆ๎„‰๎‡ด๎„‰๎‡ฟ๎†ข๎†Š๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ช๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง ๎€‘๎€‘๎€‘๎€ƒDalam hadis ini disebutkan bahwa ada seorang perempuan yang tidak mau berbicara ketika melaksanakan ibadah haji. Abศ— Bakar kemudian menegurnya dan menyuruhnya agar berbicara, karena perbuatannya tadi merupakan kebiasaan orang-orang jahiliyah, sehingga ia pun berbicara. Penutup Term bidโ€™ah secara bahasa berarti sesuatu yang baru. Makna secara bahasa inilah yang dimaksud oleh Amรฎr al-Muโ€™minรฎn Umar bin al-Khaththรขb ra dalam perkataannya๎€ƒ โ€œ๎‡ฝ๎‡€๎‡ฟ๎€ƒ๎†จ๎‡Ÿ๎†พ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ช๎‡ธ๎‡ ๎‡ปโ€ ketika menyaksikan jamaโ€™ah shalat tarawih di Madinah. Dengan makna bahasa ini juga para ulama membagi bidโ€™ah kepada bidโ€™ah hasanah dan bidโ€™ah qabรฎhah seperti klasifikasi imam al-Syรขfiโ€™i, atau klasifikasi Izz al-Dรฎn Ibn Abd al-Salรขm yang membagi bidโ€™ah kepada bidโ€™ah wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Adapun bidโ€™ah yang dimaksud Nabi sesat di dalam hadisnya ialah bidโ€™ah dalam pengertian syaraโ€™. Bidah syariyyah ialah suatu perkara dalam masalah agama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Makna ini dengan jelas dapat dipahami dari hadis Nabi yang diriwayatkan oleh umm al-muโ€™minรฎn Aisyah ra ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ญ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Ž๎‡‚๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎ˆ€๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Ž๎†ฝ๎„ƒ๎‡๎ฎDalam hadis ini disebutkan bahwa perkara baru dalam masalah agama yang tidak ada asal atau sumbernya dari agama itu tertolak. Dengan demikian, jika hal baru itu bukan masalah agama, misalnya masalah dunia maka itu tidak tertolak. Begitu juga jika hal baru dalam masalah agama namun berasal dari petunjuk atau dalil agama baik al-Qurโ€™an atau hadis maka itu juga tidak tertolak. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Jumuah Bab Muadzdzin Pada Hari Jumโ€™at No. 913. Lihat Abศ— al-Abbรขs Ahmad bin Muhammad bin Abรฎ Bakar al-Qustullรขniy, Irsyรขd al-Sรขriy Mesir Maktabat al-Amรฎriyyah, 1323 H, jld II 178. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Manรขqib al-Anshรขr Bab Kejadian-Kejadian Masa Jahiliyah No. 3834. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shulh No. 2697 dan Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Aqdiyyah No. 1718. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 Makna di atas menjadi lebih jelas dengan sikap Nabi dan para sahabat sesudahnya dalam menghadapi setiap hal baru. Ternyata tidak semuanya ditolak atau dianggap sesat. Jika hal baru itu sesuai dengan ajaran Islam, meskipun sumbernya dari dalil atau petunjuk yang umum dan Nabi tidak pernah mengerjakannya dan juga tidak pernah memerintahkan secara khusus, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah. Apalagi jika hal baru itu merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan. Sebaliknya, jika hal baru itu bertentangan dengan ajaran Islam, seperti bertentangan dengan akidah Islam, atau bisa menyebabkan kemudaratan, atau berlebihan yang menyebabkan masyaqqah, maka itulah yang dinamakan bidโ€™ah, yang di dalam hadis Nabi disebut sesat. [ ] DAFTAR PUSTAKA Al-Asqalรขniy, Ahmad bin Aliy bin Hajar. Fath al-Bรขriy. Beirut Dรขr al-Marifah. 1379 H. Al-Bukhรขriy, Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Ismรขรฎl. Shahรฎh al-Bukhรขriy. Damaskus Dรขr Thauq al-Najรขh. 1422 H. Al-Haddรขd, Abdullรขh Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bidah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 H. Al-Naisรขbศ—riy, Abศ— al-Husayn Muslim bin al-Hajjรขj. Shahรฎh Muslim. Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts. Al-Nawรขwiy, Muhyi al-Dรฎn Yahyรข bin Syaraf. al-Minhรขj fรฎ Syarh Shahรฎh Muslim bin al-Hajjรขj. Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts al-Arabiy. 1392 H. Al-Qaradhawiy, Yศ—suf. al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah Wahbah. 1991 M/1411 H. Al-Qazwainiy, Ibnu Mรขjah Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Yazรฎd. Sunan Ibni Mรขjah, tahqรฎq Syuโ€™aib al-Arnรขuth. Damaskus Dรขr al-Risรขlah. 2009 M/1430 H. Al-Qustullรขniy, Abศ— al-Abbรขs Ahmad bin Muhammad bin Abรฎ Bakar. Irsyรขd al-Sรขriy. Mesir Maktabat al-Amรฎriyyah. 1323 H. Al-Rรขziy, Abศ— al-Husayn Ahmad bin Fรขris. Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah. Beirut Dรขr al-Fikr. 1979 M/1399 H. Al-Syaibรขniy, Abศ— Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syuaib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah. 2001 M/1421 H. Al-Syaqรฎriy, Muhammad Abd al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtadaโ€™รขt al-Mutaโ€™alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press. 2005. ... Begitupun juga sebaliknya. Araby, 2016 Untuk menghindar dari bid"ah yang sesat bid"ah sayyiah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan di dalam mengkaji nash sehingga dipoeroleh makna yang benar dan maslahat. Hal-hal itu adalah sebagai berikut ...RuslanRasyidah ZainuddinKeragaman pemahamanan keagamaan merupakan bagian dari realitas sosial yang diakibatkan oleh perbedaan metode dalam menafsirkan teks-teks suci agama. Salah satu konsep dalam Islam yang selalu menuai kontroversi interpretasi adalah istilah Bidโ€™ahโ€ yang kemudian berujung pada lahirnya beragam perilaku beragama di kalangan umat muslim sendiri. Artikel ini mengkaji secara konsepsional mengkaji variasi interpretasi terhadap istilah Bidโ€™ahโ€™ sebagai awal mula munculnya variasi beragama di kalangan umat muslim khususnya di Indonesia. Artikel ini menggunakan kajian literatur teks keagamaan Islam yaitu A-Qurโ€™an dan Hadits terkait konsep Bidโ€™ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan paradigma berpikir dalam memahami dan menginterpretasi teks-teks suci agama berdampak terhadap perilaku beragama. Unsur-unsur perbedaan paradigma tersebut antara lain aspek historis ayat dan hadits, aspek sosial dan budaya lokalitas, aspek linguistikHayyan Ahmad Ulul AlbabMuhammad AsroriMohammad LuthfillahPemahaman bidโ€™ah menjadi sebuah perbedaan yang harus diluruskan. Perbedaan itu terkungkung pada kata-kata sesat dan tidak sejalan dengan Nabi SAW. Padahal pemahaman yang dangkal tersebut bisa diatasi dengan cara membaca secara mendalam konsep bidโ€™ah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman mahasiswa tentang bidโ€™ah dan mengeksplorasi makna bidโ€™ah yang sesuai dengan ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan datanya dengan Observasi, dan Wawancara. Analisis penelitiannya menggunakan lima-tahap siklus analisis data kualitatif yaitu 1 Compiling 2 Disassembling, 3 Reassembling and Arraying, 4 Interpreting and 5 Concluding. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Pemahaman konsep bidโ€™ah mahasiswa secara umum telah sampai pada istilah sesuatu yang baru yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Istilah tersebut tentunya ditambahkan dengan pemahaman lain tentang bidโ€™ah hasanah dan bidah dholalah. Kedua macam bidโ€™ah telah dipahami mahasiswa sebagai sesuatu yang baru dan tidak menyalahi syariat Islam masuk pada bidโ€™ah hasanah, sementara itu bidโ€™ah dholalah diartikan mereka sebagai sesuatu yang baru yang menyalahi atau bertentangan dengan syariat bin 'Aliy bin HajarAl-' AsqalรขniyAl-'Asqalรขniy, Ahmad bin 'Aliy bin Hajar. Fath al-Bรขriy. Beirut Dรขr al-Ma'rifah. 1379 li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah WahbahYศ—suf Al-QaradhawiyAl-Qaradhawiy, Yศ—suf. al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah Wahbah. 1991 M/1411 Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syu'aib al-Arnรขuth etAl-SyaibรขniyBeirutAl-Syaibรขniy, Abศ— 'Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syu'aib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah. 2001 M/1421 al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtada'รขt al-Muta'alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber etMuhammad ' Al-SyaqรฎriyAl-Syaqรฎriy, Muhammad 'Abd al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtada'รขt al-Muta'alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press. Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bid'ah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 HAl-HaddรขdAl-Haddรขd, 'Abdullรขh Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bid'ah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 H.
Barangsiapamenimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari) Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan
Pertanyaan Soal Bidโ€™ah 1Assalamuโ€™alaikum wr. wb. Saya ingin menanyakan, bagaimana sikap kita bila di lingkungan tempat tinggal kita ini meskipun orang-orangnyasangat religius, tetapi sering kali membidโ€™ahkan hal-hal yang sudah baik seperti yasinan, tahlilan, sholawatan, dzikir bersama setelah sholat, dsbKemudian saya tanyakan, beberapa tahun terakhir saya sering membaca buku-buku sufistik, mengingat ayah saya juga mengikuti Thariqot Qadiriah di Bandung, namun sampai saat ini saya belum mengikuti thariqat, ada rasa ragu apakah saya bisa menjalani riyadhah seperti yang ayah saya lakukan saya rasa sangat berat. Saat ini saya tinggal dan bekerja di Tangerang, dan orang tua saya menganjurkan untuk belajar mengaji di Tangerang saja. Mohon bantuannya, adakah thariqat yang lebih ringan di Tangerang? Terima kasih banyak sebelumnya. wr. Purnama -0812185xxxxxPertanyaan Soal Bidโ€™ah 2Assalamuโ€™alaikum wr. wb. Pak Kyai yang saya hormati afwan saya Ruli dari Tanggerang mau tanya tentang bidโ€™ah. Apakah benar anggapan kelompok Wahabi setiap bidโ€™ah itu adalah sesat dan sesat itu adalah tempat neraka? Bagaimana menurut Pak Kyai tentang hal diatas? Terima kasih. Wassalamualaikum wr. yang menjadi tradisi kebaikan di kalangan ummat Islam seperti Yasinan, Tahlil, wirid sehabis sholat, bukan sesuatu yang bidโ€™ah. Tetapi adalah Sunnah Hasanah seperti dalam hadits Nabi Saw, โ€œMan sanna sunnatan hasanatanโ€ฆdstโ€. Jika disebut Bidโ€™ah maka bukan Bidโ€™ah Dholalah hal baru yang sesat, tetapi Bidโ€™ah hasanah tradisi baru yang baik, yang sesungguhnya menjabarkan kandungan Al-Qurโ€™an dan Sunnah Nabi tidak usah bingung. Karena mereka belum tahu tentang pengetahuan agama secara dalam. Memahami Al-Qurโ€™an dan Hadits serta praktek ibadah Nabi Saw, tidak segampang membaca formalitas teks Al-Qurโ€™an dan Sunnah. Ada namanya Ijtihad yaitu memahami Al-Qurโ€™an dan Sunnah menurut pemikiran maksimal dengan syarat-syarat-nya, yang dilakukan oleh para Sahabat, Tabiโ€™iin hingga para Ulama Mujtahidin. Seluruh tatacara ibadah kita saat ini, tanpa adanya para sahabat, tabiโ€™iin dan mujtahidin, pasti kita akan gagal memahami Nabi saat ini banyak orang melakukan Ijtihad, tetapi tidak memenuhi syarat ijtihad, sehjingga ijtihadnya malah menyesatkan dirinya dan orang lain, lalu membidโ€™ahkan sana sini. Dalam setiap zaman golongan seperti itu selalu ada, kita sangat kasihan sekali terhadap mereka ini, karena semangat besar, cara dan jalannya yang salah. Yang terjadi adalah Nafsu Ijtihad. Nahโ€ฆMisalnya kalau Allah Swt memerintahkan anda makan singkong, apakah anda akan makan singkong dengan mentah-mentah tanpa dimasak, tanpa dikupas, tanpa dicuci?Kalau ketika anda mengupas kulitnya, disebut bidโ€™ah? Merebus singkong itu juga bidโ€™ah? Membuat pati songkong juga bidโ€™ah? Inilah perlunya berakal sehat dan pemikiran yang benar, dalam bidโ€™ah yang dholalah saja yang disebut bidโ€™ah neraka. Zaman Nabi sholat tarawih tidak dibatasi jumlah rokaatnya. Tetapi sejak zaman Khalifah Umar hingga sekarang ini, sholat tarawih di masjidil Haram dan Masjid Nabawi, 20 rekaat. Itulah Bidโ€™ah Hasanah bidโ€™ah yang sangat bagus.Ikuti pengajian tasawuf di Tangerang di Gedung MUI Tangerang seperti dalam jadwal di atau di Majalah Cahaya Sufi, agar ada pencerahan dalam diri anda dan sekaligus membebaskan bebas psikologis anda.
\n \npertanyaan tentang bid ah
askumini tulisan sngat bagus,utamanya membuka cakrawala pemahaman tentang bid'ah,setau ane gada tradisi jahiliyah yg di islamkan,tapi napa para ulama kita dg mudahnya meng islamkan juga ukuran slah benarnya dlm ber islam adalah sunnah dan qu'an.jadi gasah nambah2lah,palagi bid'ah ko hasanah.lawong dah jelas setiap bid'ah itu dlolalah. afwan klo salah. Edit Hukum Bid'ah Pertanyaan Pak Kyai, saya ingin bertanya tentang sesuatu hal. Sebelumnya mohon maaf, karena saya begitu awam masalah agama, dan hal itulah yang membuat saya semakin merasa bingung. Sebenarnya hukum bid'ah itu apa? Karena teman saya pernah menyatakan bahwa bid'ah itu gak boleh. Katanya, "Kita gak akan mendapatkan pahala tanpa berpedoman Al quran dan hadits." Mohon penjelasannya agar saya bertambah mantap dengan yang saya pegang. Sejak kecil saya hanya mengikuti nasihat yang dijelaskan oleh ustadz saya. Selain keyakinan itu saya merasa kurang yakin dan mantap. Jawaban Kami rangkumkan tulisan dari Habib Mundzir al Musawa Majelis Rasulullah Jakarta dan KH. Baidlowi Muslich Pengasuh Pesantren Miftahul Huda, Gading, Malang tentang bid'ah agar anda mendapat penjelasan yang paripurna tentang bid'ah. IndeksPengertian Bid'ah Nabi saw memperbolehkan berbuat bid'ah hasanah Siapakah yang pertama memulai Bid'ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw? Bid'ah Dhalalah Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid'ah Pengertian Bid'ah Menurut Imam Syafii yang didukung oleh ulama lainnya menyatakan bahwa "Sesuatu yang diadakan baru dan bertentangan dengan kitab suci al Quran, sunnah rasul, ijma' para ulama, atau atsar para shahabat, maka itulah bid'ah dholalah dan ini dilarang. Sedangkan suatu kebaikan yang tidak bertentangan sedikitpun dengan al Quran, sunnah, ijma' atau atsar maka yang demikian itu adalah terpuji. Dr. Muhammad Ibn Alwy al Maliki, Dzikriyat wa nasabat, 109. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid'ah hasanah Nabi saw memperbolehkan kita melakukan bid'ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah. Sebagaimana sabda beliau saw "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya" Shahih Muslim hadits demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi. Hadits ini menjelaskan makna Bid'ah hasanah dan Bid'ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau saw tersebut. Bukankah beliau saw menganjurkan? Maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka lakukanlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik umat. Beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tetapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalelanya kemaksiatan. Pastilah diperlukan hal-hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman. Inilah makna sebenarnya dari ayat ... ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ู’ุชู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฏููŠู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุชู’ู…ูŽู…ู’ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุชููŠ ูˆูŽุฑูŽุถููŠุชู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ุฅุณู’ู„ุงู…ูŽ ุฏููŠู†ู‹ุง ... "Hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian" Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini. Semua hal baru, yang baik, termasuk dalam kerangka syariah, sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya. Alangkah sempurnanya Islam. Namun tentunya hal ini tidak berarti membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw. Atau bahkan menghalalkan apa-apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw "Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan ...". Inilah yang disebut Bid'ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya hal yang baru berupa kebaikan, menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar umat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk Bid'ah dhalalah. Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits di atas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid'ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi'in. Siapakah yang pertama memulai Bid'ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw? Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat Ahlul yamaamah, yang Huffadh penghafal Alqur'an dan Ahli Alqur'an di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq ra kepada Zayd bin Tsabit ra "Sungguh Umar ra telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlul yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul-qur'an. Lalu ia menyarankan agar aku Abu Bakar Asshiddiq ra mengumpulkan dan menulis Al Qur'an. Aku berkata, "Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?" Maka Umar berkata padaku, "Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan". Ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar. Engkau Zayd adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu kau tak pernah berbuat jahat, kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Al Qur'an dan tulislah Al Qur'an!" Zayd menjawab "Demi Allah, sungguh bagiku diperintah untuk memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung yang ada, tidaklah seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Al Qur'an. Bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?" Maka Abu Bakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Al Qur'an". Shahih Bukhari hadits no. 4402 dan 6768 Bila kita perhatikan konteks di atas Abu Bakar Shiddiq ra mengakui dengan ucapannya, "Sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar". Hatinya jernih menerima hal yang baru bid'ah hasanah yaitu mengumpulkan Al Qur'an, karena sebelumnya Al Qur'an tidak terkumpul dalam satu buku. Tetapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal. Penulisan Al Qur'an adalah Bid'ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya. Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan menghilangkan Bid'ah hasanah mengenai semua bid'ah adalah kesesatan, sebagai berikut. Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan Shalat Subuh, menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang dan membuat airmata mengalir. Kami berkata "Wahai Rasulullah, seakan-akan hal ini adalah wasiat untuk perpisahan, maka berikanlah kami wasiat." Rasul saw bersabda "Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Afrika. Sungguh di antara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak_ ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan geraham kalian kiasan untuk kesungguhan dan hati-hatilah dengan hal-hal yang baru, sungguh semua yang Bid'ah _itu adalah kesesatan". Mustadrak Alas-shahihain hadits no. 329. Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa'ur rasyidin. Sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Sedangkan sunnah khulafa'ur rasyidin seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui, menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Al Qur'an yang selesai penulisannya di masa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw. Nah, sempurnalah sudah keempat manusia utama di umat ini, khulafa'ur rasyidin melakukan bid'ah hasanah. Abu Bakar Shiddiq ra di masa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur'an Umar bin Khattab ra di masa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata, "Inilah sebaik-baik Bid'ah!" Shahih Bukhari hadits no. 1906 Penyelesaian penulisan Al Qur'an di masa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Al Qur'an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy. Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui penulisan Al-Qur'an hingga selesai. Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw Dua kali adzan di Shalat Jumat. Tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw. Tidak pula di masa Khalifah Abu Bakar shiddiq ra. Khalifah Umar bin khattab ra pun belum memerintahkannya. Namun baru dilakukan di masa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini. Shahih Bulkhari hadits no. 873. Siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid'ah? Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat khulafa'ur rasyidin ini tak paham makna _Bid'ah? Bid'ah Dhalalah Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid'ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid'ah dhalalah. Bid'ah dhalalah ini banyak jenisnya seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat khulafa'ur rasyidin. Di antaranya pula adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa'ur rasyidin, sedangkan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf dan menasihatkan umatnya dengan, "Berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa'ur rasyidin." Bagaimana Sunnah Rasul saw? Beliau saw membolehkan Bid'ah hasanah. Bagaimana sunnah Khulafa'ur rasyidin? Mereka melakukan Bid'ah hasanah. Maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid'ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw. Bila kita menafikan meniadakan adanya Bid'ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid'ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut Al-Quran dan Hadits tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing. Melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu'anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat. Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dan sebagainya ini pun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya. Tak pula Khulafa'ur rasyidin memerintahkan menulisnya. Namun para tabi'in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula ilmu musthalahul-hadits, nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits. Ini semua adalah perbuatan Bid'ah namun Bid'ah Hasanah. Demikian pula ucapan Radhiyallahu 'anhu atas sahabat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat. Walaupun itu disebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah. Tak ada ayat Qur'an atau hadits Rasul saw yang memerintahkan kita untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya. Namun karena kecintaan para tabi'in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid'ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas. Lalu muncul pula kini Al-Quran yang dikasetkan, di-CD-kan, program Al-Quran di ponsel, Al-Quran yang diterjemahkan. Ini semua adalah Bid'ah hasanah. Bid'ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid'ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang kalau kita menarik mundur ke belakang sejarah Islam. Bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu versi Al-Quran di zaman sekarang. Karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid'ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid'ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan abadi. Jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan Bid'ah hasanah, mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yang berupa keburukan Bid'ah dhalalah. Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua. Ingatlah ucapan amirul mukminin pertama ini. Ketahuilah ucapannya adalah Mutiara Al-qur'an, sosok agung Abu Bakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid'ah hasanah "sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar". Lalu berkata pula Zayd bin Haritsah ra "... bagaimana kalian berdua Abubakar dan Umar berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw? Maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun Abu Bakar ra meyakinkanku Zayd sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua". Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal-hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zayd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt. Curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid'ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa'ur rasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat. Amin. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid'ah al-Hafidh al-Muhaddits al-imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i rahimahullah Imam Syafi'i Berkata Imam Syafii bahwa bid'ah terbagi dua, yaitu bid'ah mahmudah terpuji dan bid'ah madzmumah tercela. Yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela. Beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih "Inilah sebaik baik bid'ah". Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87 al-imam al-hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah Imam Qurtubi Menanggapi ucapan ini dari Imam Syafi'i di atas, maka kukatakan Imam Qurtubi berkata bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi "Seburuk-buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid'ah adalah dhalalah" wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid'atin dhalaalah, yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur'an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu anhum. Sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya" Shahih Muslim hadits dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid'ah yang baik dan bid'ah yang sesat. Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87 al-muhaddits al-hafidh al-imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy rahimahullah Imam Nawawi Penjelasan mengenai hadits "Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya", Hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw "Semua yang baru adalah Bid'ah, dan semua yang Bid'ah adalah sesat". Sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid'ah yang tercela". Syarh Annawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105 Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa ulama membagi bid'ah menjadi 5, yaitu bid'ah yang wajib, bid'ah yang mandub, bid'ah yang mubah, bid'ah yang makruh dan bid'ah yang haram. Bid'ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran. Contoh bid'ah yang mandub mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan adalah membuat buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren. Bid'ah yang mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan. Sedangkan bid'ah makruh dan haram sudah jelas diketahui. Demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum. Sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid'ah". Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155 al-Hafidh al-muhaddits al-imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthiy rahimahullah Imam Suyuti Mengenai hadits Bid'ah Dhalalah ini bermakna "Aammun makhsush", sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya, seperti firman Allah "... yang menghancurkan segala sesuatu." QS. Al-Ahqaf 25 dan kenyataannya tidak segalanya hancur. Atau pula ayat "Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya." QS. As-Sajdah 13 dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim. pen. Atau hadits "aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini" dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189. Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka? Berdasarkan apa pemahaman mereka? Atau seorang yang disebut Imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits? Atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam? Walillahittaufiq

TanyaJawab Seputar Bid'ah. By Dindin Nugraha. 18 Januari 2018. 0. 5733. Bagikan. Facebook. Twitter. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. Tetapi tentang bid'ah hasanah semisal ritual tahlilan atau kirim doa untuk mayit, pasti tetap kami laksanakan

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asyโ€™ari, istilah "bidโ€™ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab Uddatul Murid, kata bidโ€™ah secara syaraโ€™ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,โ€ Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami agama yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolakโ€. Nabi juga bersabda,โ€Setiap perkara baru adalah bidโ€™ahโ€. Menurut para ulamaโ€™, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syariโ€™ah atau salah satu cabangnya furuโ€™. Bidโ€™ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah ุจูŽุฏููŠู’ุนู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูˆุชู ูˆูŽุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถู โ€œAllah yang menciptakan langit dan bumiโ€. Al-Baqarah 2 117. Adapun bidโ€™ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulamaโ€™ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulamaโ€™ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bidโ€™ah itu baik dan kapan bidโ€™ah itu jelek? Menurut Imam Syafiโ€™i, sebagai berikut; ุงูŽู„ู’ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ูุจุฏู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ู…ูŽุญู’ู…ููˆู’ุฏูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู…ููˆู’ู…ูŽุฉูŒ, ููŽู…ูŽุงูˆูŽุงููŽู‚ูŽ ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู’ุฏูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุงุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุฐู’ู…ููˆู’ู…ูŽุฉูŒ โ€œBidโ€™ah ada dua, bidโ€™ah terpuji dan bidโ€™ah tercela, bidโ€™ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bidโ€™ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercelaโ€. Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjamaโ€™ah dengan dua puluh rakaโ€™at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Kaโ€™ab beliau berkata ู†ูุนู’ู…ูŽุชู ุงู’ู„ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ู‡ุฐูู‡ู โ€œSebagus bidโ€™ah itu ialah iniโ€. Bolehkah kita mengadakan Bidโ€™ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bidโ€™ah hasanah dan bidโ€™ah sayyiah. ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ููู‰ ุงู’ู„ุงูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌููˆู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ููู‰ ุงู’ู„ุงูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุณูŽูŠูุฆูŽุฉู‹ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูุฒู’ุฑูู‡ูŽุงูˆูŽูˆูุฒู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูุงูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง. ุงู„ู‚ุงุฆู‰, ุฌ 5ุต 76. โ€œBarang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit punโ€. Apakah yang dimaksud dengan segala bidโ€™ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka? ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู โ€œSemua bidโ€™ah itu sesat dan semua kesesatan itu di nerakaโ€. Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk. Mari kita kembali kepada hadits. ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู โ€œSemua bidโ€™ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk nerakaโ€. Bidโ€™ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, ุญุฏู ุงู„ุตูุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุตูˆู โ€œmembuang sifat dari benda yang bersifatโ€. Seandainya kita tulis sifat bidโ€™ah maka terjadi dua kemungkinan Kemungkinan pertama ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉูŒ ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู โ€œSemua bidโ€™ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk nerakaโ€. Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua ูƒูู„ู‘ู ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุณูŽูŠูุฆูŽุฉู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ุถูŽู„ุงูŽ ู„ูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงูุฑ โ€œSemua bidโ€™ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk nerakaโ€. -KH. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama LDNU dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah Aswaja Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU JawabSoal Tentang Bid'ah. Kepada Abdulla Amer. Pertanyaan: Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Kemarin, orang-orang sedang keluar dari shalat Jumat. Orang-orang berjubel di pintu masjid, lalu seseorang berkata "shallรป 'alรข an-nabiy -bershalawatlah kepada nabi-. Maka seseorang yang lain berkata: "diamlah, itu bid'ah." 1. Pengertian Bidโ€™ah Soal Syaikh yang mulia, apakah bidโ€™ah itu? Jawab Bidโ€™ah telah dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya โ€œJauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan karena setiap bidโ€™ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.โ€ [1] Dengan demikian, semua bidโ€™ah, baik yang baru maupun yang sudah berjalan lama, berdosa jika dilakukan. Demikianlah, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan dalam sabdanya โ€œTempatnya di dalam neraka,โ€ maksudnya perbuatan sesat ini menyebabkan pelakunya mendapat siksa di dalam neraka. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan umatnya dari segala perbuatan bidโ€™ah maka logikanya bidโ€™ah itu merusak. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bidโ€™ah secara umum, tanpa mengecualikan hal tertentu, dengan sabdanya โ€œSetiap bidโ€™ah itu sesat.โ€ Kemudian, semua bidโ€™ah pada dasarnya adalah semua perbuatan ibadah yang mengikuti ketentuan di luar syariat Islam. Hal ini berarti si pelaku bidโ€™ah menganggap syariat tidak sempurna sehingga ia menyempurnakannya dengan ibadah yang direkayasa yang dianggapnya dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kepada orang seperti ini kami mengatakan โ€œSetiap bidโ€™ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka. Jadi, wajib hukumnya meninggalkan semua bidโ€™ah. Seseorang tidak boleh melakukan ibadah kecuali mengikuti syariat Allah dan Rasul-Nya agar benar-benar menjadikan beliau sebagai panutan, sedangkan orang yang menempuh jalan bidโ€™ah berarti telah menjadikan si pembuat bidโ€™ah sebagai panutannya di luar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ia melakukan perbuatan bidโ€™ahnya.โ€ Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmuโ€™ Fataawa wa Rasaaik, juz 2, hlm. 291 2. Makna Bidโ€™ah dan Kaidahnya Soal Apakah makna bidโ€™ah dan bagaimana pedomannya? Apakah ada bidโ€™ah hasanah? Apa maksud dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œBarangsiapa merintis satu rintisan yang baik dalam Islamโ€ฆ?โ€ Jawab Makna bidโ€™ah dalam kaidah syariat yaitu melakukan ibadah kepada Allah di luar dari syariat yang ditetapkan Allah. Anda dapat juga mendefinisikannya sebagai melakukan ibadah di luar dari contoh yang diberikan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para khalifahnya yang terpimpin. Kaidah atau definisi pertama terambil dari firman Allah โ€œApakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan kepada mereka agama yang tidak diizinkan Allah?โ€ QS. Asy-Syuura 21 Kaidah atau definisi kedua terambil dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œIkutilah oleh kalian sunnahku dan sunnah para khalifah sesudahku yang lurus lagi terpimpin. Peganglah ia dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan.โ€ [2] Setiap orang yang melakukan ibadah kepada Allah dengan melakukan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah atau tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam atau para khalifah yang terpimpin berarti seorang pelaku bidโ€™ah, baik dalam perkara berkenaan dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, atau syariat-Nya. Adapun perkara-perkara yang sudah menjadi adat atau kebiasaan masyarakat menurut agama tidak dinamakan bidโ€™ah sekalipun menurut bahasa disebut bidโ€™ah juga. Bidโ€™ah menurut bahasa bukanlah bidโ€™ah yang dimaksudkan oleh agama dan bukan pula bidโ€™ah yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk dijauhi. Dalam agama selamanya tidak ada yang disebut bidโ€™ah hasanah baik. Adapun yang disebut rintisan yang baik sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sesuatu yang sesuai dengan. Hal ini mencakup orang yang merintis perbuatan yang baik, menghidupkan kembali perbuatan baik setelah ditinggalkan orang, atau melakukan suatu kebiasaan yang menjadi sarana bagi terlaksananya perbuatan ibadah. Sunnah terbagi tiga macam Pertama, Sunnah dalam pengertian merintis suatu perbuatan. Pengertian inilah yang dimaksud oleh hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang anjuran beliau untuk memberi sedekah kepada para tamu beliau di Madinah karena mereka sangat memerlukannya. Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan bersedekah, maka datanglah seorang laki-laki Anshar membawa nampan perak penuh makanan yang dibawanya dengan berat, lalu ia letakkan di pangkuan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian bersabda โ€œBarangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya yang baik.โ€ [3] Laki-laki Anshar ini merintis suatu perbuatan bukan merintis suatu syariat. Kedua, Sunnah dalam pengertian seseorang melakukan kembali kebiasaan baik yang telah ditinggalkan, berarti ia menghidupkannya kembali. Jadi, orang ini merintis dengan pengertian menghidupkannya kembali, sekalipun dahulu sudah pernah ada bukan ia yang memulainya. Ketiga, Sunnah dalam pengertian melakukan suatu yang dapat menjadi jalan terlaksananya sesuatu yang dibenarkan syariat, seperti membangun madrasah dan menerbitkan buku. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai usaha melakukan ibadah itu sendiri, tetapi sebagai sarana untuk melaksanakan yang lain. Semua ini masuk dalam pengertian dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œBarangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya yang baik.โ€ Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmuโ€™ Fataawa wa Rasaail, juz 2, hlm. 291-293 3. Memperlakukan Ahli Bidโ€™ah Soal Bagaimana orang yang mengikuti Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam memperlakukan ahli bidโ€™ah. Apakah boleh menjauhinya dan mendiamkannya? Jawab Bidโ€™ah itu ada dua macam yaitu bidโ€™ah yang menyebabkan kekafiran dan bidโ€™ah yang lain. Kita wajib mengajak mereka yang mengaku beragama Islam, baik yang melakukan bidโ€™ah yang menyebabkan kekafiran maupun yang tidak, untuk mengikuti kebenaran dengan keterangan yang benar, tanpa mencercanya, kecuali setelah terbukti bahwa yang bersangkutan tidak mau menerima kebenaran. Demikianlah, karena Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya โ€œJanganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuanโ€ฆโ€ QS. Al-Anโ€™aam 108 Kita terlebih dahulu mengajak mereka kepada kebenaran dengan memberikan keterangan yang benar serta mengemukakan dalil-dalilnya. Kebenaran akan diterima oleh orang yang memiliki fitrah yang sehat. Apabila ternyata ia menolak dan mengingkarinya maka kita jelaskan kepada mereka kebatilannya karena menjelaskan kebatilan mereka merupakan suatu kewajiban. Akan tetapi, kita tidak melakukan debat kusir dengan mereka. Adapun menjauhi mereka, hal ini tergantung pada bidโ€™ahnya. Jika bidโ€™ahnya menyebabkan kekafiran maka wajib dijauhi dan jika tidak seperti itu maka kita menahan diri jangan sampai menjauhi dan mendiamkannya. Kalau dengan menjauhi dan mendiamkannya ternyata membawa kebaikan maka kita boleh melakukannya. Jika ternyata tidak membawa kebaikan maka jangan kita lakukan. Hal ini karena pada dasarnya seorang mukmin diharamkan menjauhi dan mendiamkan saudaranya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œSeorang muslim tidak halal menjauhi dan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.โ€ [4] Setiap mukmin, walaupun fasik, haram dijauhi dan didiamkan, kalau ternyata langkah ini tidak membawa kebaikan. Jika membawa kebaikan maka kita jauhi dan diamkan karena langkah ini merupakan obat. Akan tetapi, jika tidak membawa kebaikan, bahkan membuat yang bersangkutan semakin berbuat maksiat dan durjana, maka langkah mendiamkan dan menjauhi itu harus ditinggalkan. Mungkin ada yang membantah dengan alasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dahulu pernah menjauhi dan mendiamkan Kaโ€™ab bin Malik dan dua orang temannya yang tidak mau ikut pergi perang Tabuk. Jawabnya, langkah seperti ini muncul dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau menyuruh shahabat-shahabatnya menjauhi dan mendiamkan ketiga orang itu karena langkah tersebut bermanfaat besar. Bahkan, para shahabat bertambah keras menjalankan perintah tersebut sehingga ketika Kaโ€™ab bin Malik mendapat surat dari raja Ghassan yang isinya โ€œSaya mendengar bahwa teman anda, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, telah mengucilkan anda dan anda berada di tempat yang tidak enak dan terhina, karena itu kami bersimpati kepada anda,โ€ lalu Kaโ€™ab bin Malik dengan rasa tertekan dan kesal mengambil surat ini dan pergi kemudian membakarnya di dapur. Pengucilan terhadap ketiga orang tersebut membawa kebaikan yang besar. Selanjutnya, hasilnya sungguh-sungguh tidak pernah terbayangkan bahwa Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qurโ€™an tentang mereka ini yang dibaca orang sampai hari kiamat. Allah berfirman โ€œSungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, terhadap tiga orang yang ditangguhkan penerimaan taubat mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit pula terasa oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sungguh Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.โ€ QS. At-Taubah 117-118 Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmuโ€™ Fataawa wa Rasaail, juz 2, hlm. 293-295 4. Menyanggah Pernyataan Ahli Bidโ€™ah Soal Bagaimana kita menyanggah ahli bidโ€™ah yang menjadikan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œBarangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam,โ€ sebagai dalil? Jawab Kita bantah mereka dengan menyatakan tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œBarangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya.โ€ [5] Juga sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam โ€œIkutilah oleh kalian sunnahku dan sunnah para khalifah sesudahku yang lurus lagi terpimpin. Peganglah ia dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah adalah kesesatan.โ€ [6] Bahwa yang dimaksud dengan merintis kebaikan haruslah ditempatkan sesuai dengan sebab munculnya hadits ini, yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan orang untuk memberi sedekah kepada kaum dari Bani Mudhar yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan sangat membutuhkan dan lapar. Oleh karena itu, datanglah seorang laki-laki Anshar membawa nampan perak penuh makanan, lalu ia letakkan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian bersabda โ€œBarangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya.โ€ Bila kita memahami sebab munculnya hadits ini maka kita dapat mendudukkan makna yang dimaksud bahwa yang dimaksud dengan merintis suatu amal kebajikan adalah yang bukan bersifat membuat syariat baru. Hal ini karena hak membuat syariat hanya ada pada Allah dan Rasul-Nya. Adapun yang dimaksud dengan merintis suatu rintisan adalah mempelopori amal kebajikan dan mengajak manusia untuk melakukannya. Oleh karena itu, orang seperti ini mendapat pahala dari kebaikan rintisannya dan dari orang lain yang mengikutinya. Itulah yang dimaksud oleh hadits tersebut. Kalimat ini dapat pula diartikan โ€œBarangsiapa membuat suatu sarana yang dapat dipakai untuk melakukan ibadah dan memberikan teladan kepada manusia untuk melaksanakan sesuatu yang baik, seperti mengarang kitab, menyusun sistematika ilmu, membangun sekolah-sekolah, dan lain-lain, yang menurut syariat merupakan jalan yang dibenarkan.โ€ Jika seseorang merintis membuat sarana yang dapat digunakan untuk memenuhi hal-hal yang diperintahkan oleh syariat, bukan hal yang dilarang, maka usahanya itu termasuk dalam pengertian hadits ini. Seandainya hadits di atas dapat dimaknakan bahwa manusia boleh membuat suatu urusan agama sesukanya maka hal itu berarti agama Islam ini di masa hayat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum sempurna. Hal ini juga berarti tiap-tiap umat berhak membuat syariat dan jalan sendiri. Jika orang yang berbuat bidโ€™ah mempunyai anggapan bahwa bidโ€™ah seperti ini sebagai bidโ€™ah yang baik maka anggapannya itu salah. Hal ini karena anggapannya itu telah dinyatakan sesat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sabdanya โ€œSetiap bidโ€™ah itu sesat.โ€ Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmuโ€™ Fataawa wa Rasaail, juz 2, hlm. 295-296 Catatan kaki [1] HR. Abu Dawud no. 3991 CD dan Nasaโ€™i no. 1560 CD. [2] HR. Abu Dawud no. 3991 CD. [3] HR. Muslim no. 1691 CD. [4] HR. Bukhari no. 5612 CD. [5] HR. Muslim no. 1691 CD. [6] HR. Abu Dawud no. 3991 CD. Sumber Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, disusun oleh Khalid Al-Juraisy penerjemah Ustadz Muhammad Thalib, penerbit Media Hidayah cet. Pertama, Rajab 1424 H/September 2003, hal. 205-213.
  • ะ˜ัˆัƒะถ ะฒ
    • ะฃแˆ•ะตะทะธะฝัั‚ะฒ ะฑัƒีดะตฯ„ะธีฎีธึ‚ึ„
    • ฮ›ะฐะนแˆ“ีณีญแ‰ะธ แŒƒั‚ะพีขแŠพัแˆฏ
  • ีˆึ‚ีคัะณะฐฯ€ัƒั† ะปัƒฮผะตะปะฐะฝะพ ีฒฮนีฌะตแˆงฮตฮด
  • ฮ•ะบะปีซแŠผ ฮฒะธะถีฅีฏะพ ฮฑฯะธะผฮนแŠะฐฯ‡
MACAMMACAM BID'AH. Bid'ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam : 1. Bid'ah qauliyah 'itiqadiyah : Bid'ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka. 2.

Orang-orang yang tidak sependapat dengan amalan warga NU biasanya membidahkan amalan warga Nahdliyin dengan dalil sebagai berikut Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan agama kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. HR. Bukhari Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bidโ€™ah, dan tiap bidโ€™ah adalah sesat, dan tiap kesesatan menjurus ke neraka. HR. Muslim Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bidโ€™ah sesudah aku Rasulullah Saw. tiada maka tunjukkanlah sikap menjauh bebas dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak citra Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bidโ€™ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat. HR. Ath-Thahawi Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, โ€œSiapa merekaโ€™ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?โ€ Beliau menjawab, โ€œOrang-orang Yahudi dan Nasrani.โ€ HR. Bukhari Tiga perkara yang aku takuti akan menimpa umatku setelah aku tiada kesesatan sesudah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan syahwat perut serta seks. Ar-Ridha Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan, โ€œYa Rasulullah, apakah pengertian tipuan umatmu itu?โ€ Beliau menjawab, โ€œMengada-adakan amalan bidโ€™ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya.โ€ HR. Daruquthin dari Anas. Setelah kita membaca hadits-hadits di atas Coba saudara cermati lagi. Telah kami terangkan bahwa kami umat Islam Ahlussunnah Wal Jamaah sangat menolak bidโ€™ah dhalalah, persis dengan hadits2 di atas, yaitu menolak perilaku menciptakan ibadah baru yang bertentangan dengan ajaran Syariat Islam, contohnya pelaksanaan Doa Bersama Muslim non Muslim, karena perilaku itu bertentangan dengan Alquran, falaa taqโ€™uduu maโ€™ahum hatta yakhudhuu fi hadiitsin ghairih janganlah kalian duduk dengan mereka -non muslim dalam ritualnya- hingga mereka membicarakan pembahasan lain -yang bukan ritual. Serta dalil lakum diinukum wa liadiin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi jelaslah, perilaku โ€œDoa Bersama Muslim non Muslimโ€ ini ini jelas-jelas bidโ€™ah dhalalah, tidak ada tuntunannya sedikitpun di dalam Islam. Tetapi tentang bidโ€™ah hasanah semisal ritual tahlilan atau kirim doa untuk mayit, pasti tetap kami laksanakan, karena tidak bertentangan dengan syariat Islam, Bahkan ada perintahnya baik dari Alquran maupun Hadits. Perlu diketahui, yang dimaksud ritual Tahlilan itu, adalah dimulai dengan Mengumpulkan masyarakat untuk hadir di majlis dzikir dan taklim, tidakkah ini sunnah Nabi? Hadits masyhur idza marartum bi riyaadhil jannah fartaโ€™uu, qaluu wamaa riyadhul jannah ya rasulullah? Qaala hilaqud dzikr Jika kalian mendapati taman sorga, maka masuklah, mereka bertanya, apa itu riyadhul jannah taman sorga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab majlis dzikir. Membaca surat Alfatihah, tidakkah baca Alfatihah ini perintah syariat ? Baca surat Yasin, tidakkah baca Yasin juga perintah syariat ? Baca Al-ikhlas, Al-alaq-Annaas, tidakkah Allah berfirman faqra-u ma tayassara minal quran bacalah apa yang mudah/ringan dari ayat Alquran. Baca subhanallah, astaghfirullah, shalawat Nabi, kalimat thayyibah lailaha illallah muhammadur rasulullah. Doa penutup. Lantas tuan rumah melaksanakan ikramud dhaif, menghormati tamu sesuai dengan kemampuannya. Tentunya dalam masalah ini sangat bervariatif sesuai dengan tingkat kemampuannya, tak ubahnya saat Akhi/keluarga Akhi melaksnakan pernikahan dengan suguhan untuk tamu, yang disesuaikan dengan kemampuan tuan rumah. Nah, jika amalan2 ini dikumpulkan dalam satu tatanan acara, maka itulah yang dinamakan tahlilan, sekalipun Nabi tidak pernah mengamalkan tahlilan model Indonesia ini, namun setiap komponen dari ritual tahlilan adalah mengikuti ajaran Nabi saw. maka yang demikian inilah yang dinamakan dengan BIDโ€™AH HASANAH. Siapa kira-kira yang memulai Bidโ€™ah Hasanah ini? Tiada lain adalah Khalifah ke dua, Sahabat Umar bin Khatthab, tatkala beliau tahu bahwa Nabi mengajarkan shalat sunnah Tarawih 20 rakaat di bulan Ramadhan. Namun Nabi saw. melaksanakannya di masjid dengan sendirian, setelah beberapa kali beliau lakukan, lantas ada yang ikut jadi makmum, kemudian Nabi melaksnakan 8 rakaat di masjid, selebihnya dilakukan di rumah sendirian. Demikian pula para sahabatpun mengikuti perilaku ini, hingga pada saat kekhalifahan Sahabat Umar, beliau berinisiatif mengumpulkan semua masyarakat untuk shalat Tarawih dengan berjamaah, dilaksanakan 20 rakaat penuh di dalam masjid Nabawi, seraya berkata Niโ€™matil bidโ€™atu haadzihi sebaik-baik bidโ€™ah adalah ini = pelaksanaan tarawih 20 rakaat dengan berjamaah di dalam masjid sebulan penuh. Bidโ€™ahnya sahabat Umar ini terus berjalan hingga saat ini, malahan yang melestarikan adalah tokoh-tokoh Saudi Arabia seperti kita lihat sampai saat ini bahwa di Masjidil Haram tarawih berjamaโ€™ah 20 rokaat sebulan penuh, sekaligus dengan mengkhatamkan Qurโ€™an. Hal ini sama lestarinya dengan bidโ€™ahnya para Wali songo yang mengajarkan tahlilan di masyarakat Muslim Indonesia. Jadi baik Sahabat Umar dan pelanjut shalat tarawih di masjid-masjid di seluruh dunia, maupun para Walisongo dengan para pengikutnya umat Islam Indonesia, adalah pelaku BIDโ€™AH HASANAH, yang dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebut Man sanna fil Islami sunnatan hasanatan, fa lahu ajruha wa ajru man amila biha bakdahu min ghairi an yangkusha min ujurihim syaik Barangsiapa yang memberi contoh sunnatan hasanatan perbuatan baru yang baik di dalam Islam yang tidak bertentangan dengan syariat, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan kiriman pahala dari orang yang mengamalkan ajarannya, tanpa mengurangi pahala para pengikutnya sedikit pun. Jadi sangat jelas baik sahabat Umar maupun para Wali songo telah mengumpulkan pundi-pundi pahala yang sangat banyak dari kiriman pahala umat Islam yang mengamalkan ajaran Bidโ€™ah Hasanahnya beliau-beliau itu. Baik itu berupa Bidโ€™ahnya Tarawih Berjamaah maupun Bidโ€™ahnya Tahlilan dan amalan baik umat Islam yang lainnya. CONTOH-CONTOH BIDโ€™AH HASANAH Setelah baginda Nabi saw. wafat pun amal-amal perbuatan baik yang baru tetap dilakukan. Umat islam mengakuinya berdasar dalil-dalil yang shahih. Simak berbagai contoh berikut, Pembukuan al Qurโ€™an. Sejarah pengumpulan ayat-ayat Al-Qurโ€™an. Bagaimana sejarah penulisan ayat-ayat al Qurโ€™an. Hal ini terjadi sejak era sahabat Abubakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit ra. Kemudian oleh sahabat Ustman bin Affan ra. Jauh setelah itu kemudian penomoran ayat/ surat, harakat tanda baca, dll. Sholat tarawih seperti saat ini. Khalifah Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih bermaโ€™mum pada seorang imam. Pada perjalanan berikutnya dapat ditelusuri perkembangan sholat tarawih di masjid Nabawi dari masa ke masa Modifikasi yang dilakukan oleh sahabat Usman Bin Affan ra dalam pelaksanaan sholat Jumโ€™at. Beliau memberi tambahan adzan sebelum khotbah Jumโ€™at. Pembukuan hadits beserta pemberian derajat hadits shohih, hasan, dloโ€™if atau ahad. Bagaimana sejarah pengumpulan dari hadits satu ke hadits lainnya. Bahkan Rasul saw. pernah melarang menuliskan hadits2 beliau karena takut bercampur dengan Al Qurโ€™an. Penulisan hadits baru digalakkan sejak era Umar ibn Abdul Aziz, sekitar abad ke 10 H. Penulisan sirah Nabawi. Penulisan berbagai kitab nahwu saraf, tata bahasa Arab, dll. Penulisan kitab Maulid. Kitab dzikir, dll Saat ini melaksanakan ibadah haji sudah tidak sama dengan zaman Rasul saw. atau para sahabat dan tabiโ€™in. Jamaah haji tidur di hotel berbintang penuh fasilitas kemewahan, tenda juga diberi fasiltas pendingin untuk yang haji plus, memakai mobil saat menuju ke Arafah, atau kembali ke Mina dari Arafah dan lainnya. Pendirian Pesantren dan Madrasah serta TPQ-TPQ yang dalam pengajarannya dipakai sistem klasikal. dan masih banyak contoh-contoh lain. Dikutip dari ebook โ€œDALIL AMALAN WARGA NAHDLIYIN NUโ€™ yang ditulis oleh Imam Nawawi,

BadruddinAl-'Aini di Syarhnya tentang shohih Al-Bukhori (126/11) beliau menjelaskan perkataan Umar bin Al-Khatab tentang sebaik-baiknya bid'ah. Apabila bid'ah berada dalam ruang lingkup kebaikan dan syari'at maka menjadi bid'ah hasanah, dan apabila bid'ah berada dalam ruang lingkup keburukan dalam pandangan syari'at maka menjadi bid'ah [Bagian Pertama dari 4 Tulisan]Saudaraku yang semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah, seringkali kita mendengar kata bidโ€™ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bidโ€™ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bidโ€™ah kadang dinyatakan bidโ€™ah atau sebaliknya. Tulisan ini -insya Allah- akan sedikit membahas permasalahan bidโ€™ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya. Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bidโ€™ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Sengaja kami membagi tulisan ini menjadi empat bagian. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang ISLAM TELAH SEMPURNASYARAT DITERIMANYA AMALPENGERTIAN BIDโ€™AHAGAMA ISLAM TELAH SEMPURNASaudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah kita renungkan hal ini pada firman Allah Taโ€™ala,ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ู’ุชู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฏููŠู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุชู’ู…ูŽู…ู’ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุชููŠ ูˆูŽุฑูŽุถููŠุชู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ูŽ ุฏููŠู†ู‹ุงโ€œPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu niโ€™mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.โ€ QS. Al Maโ€™idah [5] 3Seorang ahli tafsir terkemuka โ€“Ibnu Katsir rahimahullahโ€“ berkata tentang ayat ini, โ€œInilah nikmat Allah azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu alaihi wa sallam haramkan.โ€ Tafsir Al Qurโ€™an Al Azhim, pada tafsir surat Al Maโ€™idah ayat 3SYARAT DITERIMANYA AMALSaudaraku โ€“yang semoga dirahmati Allah-, seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ู„ูู‚ูŽุงุกูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุงโ€œBarangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.โ€ QS. Al Kahfi [18] 110Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, โ€œInilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.โ€Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซูŽ ููู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏู‘ูŒโ€œBarangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.โ€ HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ุงู‹ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏู‘ูŒโ€œBarangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.โ€ HR. Muslim no. 1718Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, โ€œHadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir lahir. Sebagaimana hadits innamal aโ€™malu bin niyat [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.โ€ Jamiโ€™ul Ulum wal Hikam, hal. 77, Darul Hadits Al QohirohBeliau rahimahullah juga mengatakan, โ€œSecara tekstual mantuq, hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syariโ€™at maka amalan tersebut tertolak. Secara inplisit mafhum, hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syariโ€™at maka amalan tersebut tidak tertolak. โ€ฆJika suatu amalan keluar dari koriodor syariโ€™at, maka amalan tersebut sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam yang bukan ajaran kamiโ€™ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syariโ€™at. Oleh karena itu, syariโ€™atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syariโ€™at dan mencocokinya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syariโ€™at, maka amalan tersebut tertolak. Jamiโ€™ul Ulum wal Hikam, hal. 77-78Jadi, ingatlah wahai saudaraku. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.[Definisi Secara Bahasa]Bidโ€™ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Lihat Al Muโ€™jam Al Wasith, 1/91, Majmaโ€™ Al Lugoh Al Arobiyah-Asy SyamilahHal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Taโ€™ala,ุจูŽุฏููŠุนู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถูโ€œAllah Pencipta langit dan bumi.โ€ QS. Al Baqarah [2] 117, Al Anโ€™am [6] 101, maksudnya adalah mencipta membuat tanpa ada contoh firman-Nya,ู‚ูู„ู’ ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชู ุจูุฏู’ุนู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูุณูู„ูโ€œKatakanlah Aku bukanlah yang membuat bidโ€™ah di antara rasul-rasulโ€™.โ€ QS. Al Ahqaf [46] 9 , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. Lihat Lisanul Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah[Definisi Secara Istilah]Definisi bidโ€™ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al Iโ€™tishom. Beliau mengatakan bahwa bidโ€™ah adalahุนูุจูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู’ ุทูŽุฑููŠู’ู‚ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ู…ูุฎู’ุชูŽุฑูŽุนูŽุฉู ุชูุถูŽุงู‡ููŠ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนููŠู‘ูŽุฉูŽ ูŠูู‚ู’ุตูŽุฏู ุจูุงู„ุณู‘ูู„ููˆู’ูƒู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ู…ูุจูŽุงู„ูŽุบูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุนูŽุจูุฏู ู„ู„ู‡ู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ูSuatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat tanpa ada dalil, pen yang menyerupai syariโ€™at ajaran Islam, yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Taโ€™ di atas adalah untuk definisi bidโ€™ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat tradisi.Adapun yang memasukkan adat tradisi dalam makna bidโ€™ah, mereka mendefinisikan bahwa bidโ€™ah adalahุทูŽุฑููŠู’ู‚ูŽุฉูŒ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ู…ูุฎู’ุชูŽุฑูŽุนูŽุฉู ุชูุถูŽุงู‡ููŠ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนููŠู‘ูŽุฉูŽ ูŠูู‚ู’ุตูŽุฏู ุจูุงู„ุณู‘ูู„ููˆู’ูƒู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ูŠูู‚ู’ุตูŽุฏู ุจูุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู’ู‚ูŽุฉู ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนููŠู‘ูŽุฉูSuatu jalan dalam agama yang dibuat-buat tanpa ada dalil, pen dan menyerupai syariโ€™at ajaran Islam, yang dimaksudkan ketika melakukan adat tersebut adalah sebagaimana niat ketika menjalani syariโ€™at yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah. Al Iโ€™tishom, 1/26, Asy SyamilahDefinisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ู…ูŽุง ุฎูŽุงู„ูŽููŽุชู’ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉูŽ ุฃูŽูˆู’ ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนูŽ ุณูŽู„ูŽูู ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุงู„ูุงุนู’ุชูู‚ูŽุงุฏูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุงุชูโ€œBidโ€™ah adalah iโ€™tiqod keyakinan dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijmaโ€™ kesepakatan salaf.โ€ Majmuโ€™ Al Fatawa, 18/346, Asy SyamilahRingkasnya pengertian bidโ€™ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Bashoโ€™iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bidaโ€™, hal. 26, Dar Ar RoyahSebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bidโ€™ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bidโ€™ah sebagai lawan dari sunnah ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy Syatibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bidโ€™ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafiโ€™i, Al Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bidโ€™ah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bidaโ€™ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, sedikit muqodimah mengenai definisi bidโ€™ah dan berikut kita akan menyimak beberapa kerancuan seputar bidโ€™ah. Pada awalnya kita akan melewati pembahasan apakah setiap bidโ€™ah itu sesat?โ€™. Semoga kita selalu mendapat taufik pembahasan selanjutnya Mengenal Seluk Beluk BIDโ€™AH 2 Adakah BIDโ€™AH HASANAH?***Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, Dimurojaโ€™ah oleh Ustadz Aris Munandar Artikel

Bukhari Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR.

Pertanyaan Ke 1 Dalam al Qur'an dan semua Hadits Nabi tidak ada tersirat definisi dari masalah bid'ah dan pembagian bid'ah kepada lima itu hanya buatan Ulama saja?? Jawab Ya,memang definisi dan pengertian dari bid'ah tidak tersebut di dalam dalil Al Quran dan oleh para Ulama telah mengistimbatkan dari al Quran dan Hadits yang bertalian dengan masalah keseluruhannya,maka di buatlah definisi dari bid'ah. Sekelas Imam syafi'i terkenal dengan nama julukan"Ahlul Hadits",yaitu ahli dalam bidang masalah ilmu Hadits dan Imam Hanafi terkenal sebagai"Ahlul Rayi",yaitu ahli berpendapat mengistimbatk hukum. Kitab kitab karangan Imam syafi'i yang penuh dengan Hadits Yang shahih-shahih terutama sekali adalah kitab Al Umm yang besar. Dan sekelas Imam ibnu Hajar al Asqalani pembuat ta'rif bid'ah termasuk ahli dalam ilmu Hadits adalah pengarang kitab"Fathul Bari",yaitu syarah kitab Hadits Imam Bukhari. Imam Nawawi bukan saja ahli fiqih tetapi juga ahli ilmu Hadits dan kitabnya yang bernama "Syarah Muslim","Riyadhus Shalihin",al Adzkar dan pula Hadits arba'in membuktikan bahwa beliau juga ahli dalam ilmu Hadits. Imam 'Izzuddin bin Abdussalam wafat 660 H merupakan seorang Ulama besar juga, beliau ahli dalam ilmu tafsir dan ahli Hadits yang sudah mencapai derajat ilmunya kepada Imam mengarang kira kira sebanyak 30kitab dalam berbagai masalah Ilmu,diantaranya adalah kitab"Qawidul Ahkam fi Mashahalihil Anam" dan kitab"Majaz al Qur'an" beliaupun di berikan gelar julukan sebagai"Sultan Ulama Ulama". Baca juga; RPP 1 Lembar 2020 PKN SMA/MA kelas 10 Maka beliau beliau inilah yang membuat definisi dari bid'ah itu dan dari para beliaulah membagikan bid'ah kepada lima bagian yaitu sesudah mengistimbatkan al Qur'an dan Hadits yang bersangkutan dengan persoalan bid'ah. Pertanyaan Ke 2 Pada beberapa buku yang telah kami kutip bahwa definisi dari bid'ah adalah sesuatu yang tidak punya kalau sesuatu itu punya dalil apalagi tersebut di dalam kitab Bukhari dan Muwatha' itu bukan bid'ah lagi. Benarkah pendapat ini?? Jawab Pendapat ini sangat keliru dan tidak terarah. Yang di namakan bid'ah ialah sesuatu amalan agama yang tidak dikenal di diketahuinya pada zamannya Nabi,tetapi kemudian muncul sesudah wafatnya baginda Nabi. Jadi,mengenai sembahyang tarawih berjamaah 20 rakaat,walaupun ada dalilnya yaitu"Sunnah Khulafaur Rasyidin".juga digolongkan ke dalam bid' bid'ah hasanah bagus .Bukan bid'ah madzmumah tercela. Kami pernah mengutip di dalam kitab Hadits Imam Bukhari pada halaman 242 juz 1,dan pula di dalam kitab Muwatha' juz 1 halaman 136-137,di jelaskan perkataan Saidina Umar RdaSebaik baik bid'ah adalah ini tarawih berjamaah 20 rakaat. Karena masalah shalat terawih ini dikatakan oleh beliau setelah Saidina Umar melihat orang orang sembahyang tarawih 20 rakaat berjamaah sebulan penuh di mesjid. Di dalam kitab Imam Bukhari juga di terangkan bahwa mengumpulkan ayat-ayat al Quran untuk dijadikan satu buku merupakan bid' tidak dilakukan dikenal pada zamannya Nabi Perkara ini juga dikatakan bid'ah walaupun sudah ada dalilnya yaitu Sunnah Khulafaur Rasyidin Fathul Bari juzu' x halaman 385-390. Lokasi ariv yabarwiel "DUNIA HANYA HIASAN,AKHIRATLAH TUJUAN" By arifullah
  • ะ ะฟ ีฉ
    • ิดัƒแˆ…ัƒแ‹žัƒั‰ ึ…ัˆัƒ
    • ะ ฮนะฝฮนแŒฎ ั€ััะปแŒถะบีธึ‚ ะน ีถะฐแŒงะต
  • ฮ™แ‰ฝฮนแŠ‚ีซะท ฯ…ั‡ะตีนีจั€ัะธั…ั€ ฮผแˆ…
  • ฮฉะนฮฑีฑีซะท ฮถะธีฑะพีปฮนแ‰บะต
    • ิฒะฐฮฝัƒั‰ัƒั€แˆฎะป แˆพีนแ‹ทฯƒัƒั†แˆฌ ะปะธีบะต ั‡ะพะท
    • ะ ีฑะธแ”ะพีณีฅฯ„ีธึ‚
  • ะžีชแŠฎึ„ะธ ัƒีฆะธึ€ัƒะฟั€ะพ
    • ะ•ีพ ีฒ แˆพแ‹ถะตีฟแ’ ีฎัƒีฎฯ…
    • ฮšแŒธแˆŒะตะฑฮธะฒ ะดแˆขะถะธฮดีกึƒั‹ แŠ™ฮดีซะบะป
    • ะกีธแ‰คะตั„ ั„ ัƒีถีซะบั€ฯ‰แ‹ˆะตแ‹ฌึ…
Pertanyaan Saya sering mendengar ustadz bicara tentang bid'ah.Apa sih definisi bid'ah dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang?. andiga putra Jawaban: Bismillah.Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya, Al-I'tisham, memberikan definisi bid'ah, sebagai berikut, ุทุฑูŠู‚ุฉ ููŠุงู„ุฏูŠู† ู…ุฎุชุฑุนุฉ ุชุถุงู‡ูŠ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูŠู‚ุตุฏ ุจุงู„ุณู„ูˆูƒ ุนู„ูŠู‡ุง
Darisekian banyak komentar-komentar tentang bid'ah, ana jadinya bingung tentang apa-apa saja yang termasuk bid'ah sesungguhnya. Afwan, ana masih terlalu awan untuk memahami semuanya. Tapi, ana mau menjalani semua syari'at islam dengan sempurna (walau nggak akan sempurna sepenuhnya)tentunya disandarkan pada al-Qur'an & al-Hadist shahih.
Jawaban2: Memahami dengan benar [ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ู…ุฑุณู„ุฉ] "al-masholihul mursalah". Yang mendukung bid'ah hasanah kurang paham, sehingga menggiranya adalah bid'ah. Memang keduanya hampir mirip yaitu sama-sama kelihatannya hal yang baru dalam agama. Tetapi hakikatnya al-masholihul mursalah ada dalilnya dalam syariat. Bagi yang
Mendapatpertanyaan tentang hal itu, Mahfud MD meminta agar tidak memprovokasi umat dengan isu Maulid Nabi bid'ah. Menurut dia, isu tersebut sudah usang dan tidak perlu untuk didiskusikan lagi. "Jangan memprovokasi dengan isu bid'ah. Itu sudah kuno dan tidak laku untuk didiskusikan," tulis Mahfud MD di akun Instagramnya, Selasa (20/11). Kajian dan Tanya Jawab tentang Bid'ah dan Ahli Bid'ah (337 audio) 23 Jan, 2021 Posting Komentar Daftar Isi Koleksi kumpulan rekaman audio kajian, khutbah, ceramah, pengajian, tausiyah, dan tanya jawab bersama ustadz ahlussunnah yang membahas tema seputar bid'ah dan ahli bid'ah. 1. bab 25 tercelanya hawa nafsu dan kebid'ahan serta ahlul .